Home / Headlines / Debu Sandblasting Sebabkan Ribuan Warga Terserang ISPA
Debu Sandblasting Sebabkan Ribuan Warga Terserang ISPA

Debu Sandblasting Sebabkan Ribuan Warga Terserang ISPA

BATAM, IsuKepri.Com — Warga Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Kota Batam mengeluhkan debu yang berasal dari kegiatan sandblasting industri galangan kapal (shipyard) kawasan Tanjung Uncang dan Sagulung. Debu dari kegiatan sandblasting ini terbang ke udara dan membuat polusi tersendiri di kawasan Tanjung Uncang, Sagulung hingga Pulau Buluh.

“Debu sandblasting sangat mengotori udara dan rumah-rumah warga. Apalagi kalau tidak ada hujan, atap rumah penuh dengan debu bekas kegiatan sandblasting,” ujar Sophin, salah seorang warga Pulau Buluh, Minggu (27/5/2012).

Menurutnya, kondisi ini sudah dialami warga Pulau Buluh sejak beberapa tahun dan menyebabkan banyak warga yang terserang penyakit inspeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Namun pihak perusahaan-perusahaan shipyard yang ada di sekitar kawasan itu seolah tidak peduli.

Masih banyak aktivitas sandblasting yang dilakukan di tempat terbuka di pinggir laut sekitar Pulau Buluh. Dampaknya, debu sandblasting berterbangan di udara, dilaut dan dilingkungan warga pulau sekitar. Terutama Pulau Buluh, yang jaraknya dari kawasan industri shipyard hanya sekitar 1,5 kilometer dan hanya terpisah oleh laut.

Tidak hanya lingkungan pemukiman warga kotor berdebu, hadirnya perusahaan shipyard dengan segala polusi dan limbahnya telah menyebabkan mata pencaharian nelayan terganggu.

“Ekosistem laut semakin terancam, nelayan terpaksa melaut ke tempat yang lebih jauh untuk mencari ikan. Karena di perairan sekitar, ikan semakin sulit dicari,” ungkap pria berkacamata ini kepada IsuKepri.Com.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Chandra Rizal mengakui tingginya dampak debu dan sandblasting di masyarakat. Dampak ini menjadi penyebab tingginya penyakit ISPA yang diderita masyarakat Kota Batam.

“Penyakit ISPA merupakan penyakit tertinggi di Kota Batam, yang diantaranya disebabkan udara kotor seperti debu dan kegiatan sandblasting,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Sei Lekop, Sagulung, dr Sanny Tiurni Ani mengungkapkan, ISPA merupakan penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Kecamatan Sagulung. Berdasarkan data Puskesmas Sei Lekop, terdapat sebanyak 10.526 penderita ISPA dari 46.629 kunjungan selama 2011. Atau 22,6 persen dari total kunjungan pasien ke puskesmas Sei Lekop merupakan penderita penyakit ISPA.

Jumlah penderita penyakit ISPA ini sangat tinggi dibandingkan penyakit lainnya yang banyak menyerang masyarakat di Kecamatan Sagulung. Seperti penyakit gangguan gigi dan penunjang lainnya dengan 1.502 pasien yang merupakan penyakit tertinggi kedua dan penyakit GEA (Inspeksi Saluran Cerna) dengan 1.322 pasien yang merupakan penyakit tertinggi ketiga selama 2011.

“Penyakit ISPA ini sangat rentan dengan daerah yang banyak debu,” ujarnya.

dr Sanny menjelaskan, gejala penyakit ISPA diantaranya seperti demam, batuk, pilek, bersin atau sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat, tubuh terasa tidak nyaman dan lainnya. Penyakit menular ini sangat erat kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh seseorang.

Penularan penyakit dapat melalui udara pernapasan yang mengandung kuman yang dihirup orang sehat lewat saluran pernapasan. ISPA yang tidak ditangani secara lanjut, dapat berkembang menjadi penyakit radang paru dan penyakit berbahaya lainnya.

Penyakit ISPA akan meningkat saat cuaca panas ataupun udara lembab dan berdebu, akibat adanya serangan vector penyakit seperti virus dan bakteri” ungkapnya.

Untuk menghindarinya, dr Sanny mengimbau masyarakat menerapkan berperilaku hidup sehat. Seperti mencuci tangan sebelum makan dan memperhatikan kebersihan diri, khususnya bagian hidung dan mulut.

Pencemaran udara dan debu di kawasan industri galangan kapal di Dapur 12, Sei Lekop, Sagulung dan Tanjung Uncang menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dan debu berasal dari berbagai kegiatan industri galangan kapal, seperti lalu lalang kendaraan berat di jalan yang belum diaspal dan sanblasting. Yang semakin memberikan dampak negatif, salah satunya dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit.

Pantauan IsuKepri.Com, di jalan menuju industri galangan di Dapur 12 dan Sei Lekop, beberapa pekerja yang mengendarai kendaraan bermotor terpaksa harus menutup hidung dengan kain, agar tidak menghirup debu. Apalagi saat cuaca panas dan berpas-pasan dengan kendaraan berat yang melintas, debu semakin mengkhawatirkan, karena dapat menghalangi jarak pandang.

“Setiap hari kami harus menyiapkan kain sebagai penutup hidung untuk menghindari debu, perusahaan sepertinya tidak mau peduli dengan kondisi yang dialami pekerja, seperti memberikan masker ataupun membasahi jalan tanah saat cuaca panas,” gerutu Nasrul, salah seorang pekerja galangan di Dapur 12, Sagulung.

Kecamatan Sagulung memiliki 6 kelurahan, yakni Kelurahan Tembesi, Sei Lekop, Sei Langkai, Sei Binti, Sagulung Kota dan Sei Pelunggut. Dari 6 kelurahan tersebut, terdapat puluhan industri galangan kapal yang ada di 3 Kelurahan, Sei Pelunggut (Dapur 12), Sei Binti dan Sei Lekop.

Luas wilayah Kecamatan Sagulung sebesar 64 km2 dengan jumlah penduduk per 31 Desember 2011 mencapai 147.926 jiwa. Beberapa perusahaan shipyard dengan investor dari PMA yang ada di wilayah Kecamatan Sagulung diantaranya PT Marcopolo Shipyard, PT Delta Shipyard, PT Galangan Putra Tanjungpura, PT Usda Seroja Jaya, PT Karyasindo Samudera Biru, PT BH Marine Offshore, PT Perkasa Melati dan lainnya. Namun anehnya, perusahaan-perusahaan besar ini tidak pernah berkoordinasi dengan perangkat masyarakat sekitar, seperti dengan Lurah ataupun Camat.

“Perusahaan-perusahaan galangan tidak pernah berkoordinasi dengan Kelurahan ataupun Kecamatan. Sehingga kita tidak memiliki data dan tidak tahu pasti berapa banyak jumlah perusahaan galangan yang ada di Kecamatan Sagulung,” ungkap Camat Sagulung, Abidun Pasaribu saat dikonfirmasi.

Belum diketahui, apakah ada tanggung jawab sosial puluhan perusahaan shipyard dalam bentuk corporate social responsibility (CSR) terhadap masyarakat sekitar. Ataukah hanya debu dan penyakit saja yang diberikan perusahaan terhadap masyarakat sekitar. (eki)

Scroll To Top

Suara Masyarakat

CLOSE

Thank you!

Please fill out the form below.

Name *
Email *
URL (include http://)
Subject *
Question *
* Required Field
Close
Bergabunglah dengan kami!
Follow dan Like