SHARE

Oleh : Zaki Setiawan

Banjir kembali menerjang sejumlah daerah di Indonesia, menyebabkan terjadinya korban jiwa, harta dan benda. Gatranews dalam situsnya menulis, berdasarkan data kepolisian Polda Metro Jaya sejak Selasa-Senin (15-21/1/2013) mencatat 26 korban jiwa dalam banjir di Jakarta. Korban meninggal lebih didominasi karena tenggelam dan terseret banjir.

Banjir di Kota Bandar Lampung, Kamis (24/1/2013) petang menewaskan tiga korban jiwa. Banjir yang terjadi setelah hujan deras selama tiga jam tersebut juga merendam 20 titik di Kota Bandar Lampung.

Di Jawa Timur, kerugian banjir Bengawan Solo mencapai Rp47 miliar (metrotvnews). Kerugian materi akibat banjir luapan Bengawan Solo dan banjir bandang yang melanda 151 desa di tiga kabupaten hilir sungai.

Ini setelah banjir merendam Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan Provinsi Jawa Timur, awal Januari lalu. Di tiga kabupaten tersebut banjir telah merendam 7.651 hektare (ha) lahan pertanian. Bencana banjir di tiga wilayah ini juga telah menggenangi 25 kecamatan dengan jumlah rumah terendam mencapai 5.838 unit.

Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rahmat Witoelar menyatakan, sejumlah bencana yang terjadi di Indonesia merupakan dampak dari perubahan iklim. Pemerintah tak bisa sendiri, perlu kebersamaan mengatasi perubahan fenomena global ini. Meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat menjadi prioritas dalam mencegah dampak semakin meluas di masa mendatang.

“Langkah strategis untuk mengatasi perubahan iklim adalah lewat masyarakat, bukan lewat pemerintah,” kata Mantan Menteri Lingkungan Hidup tersebut dalam Lokakarya Wartawan “Meliput Perubahan Iklim” yang dilaksanakan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) bekerjasama dengan Kedutaan Besar Norwegia di Batam, Selasa (22/1/2013).

Menurut Rahmat Witoelar, dampak perubahan iklim tidak hanya menimpa negara miskin. Negara paling maju sekalipun telah mengalami dampak negatif dari perubahan iklim, baik primer, sekunder dan turunan.

Dampak primer dari perubahan iklim diantaranya terjadinya pemanasan global, pergeseran dan perubahan karakteristik musim dan cuaca ekstrem. Sedangkan dampak sekunder mengakibatkan melelehnya lapisan es dan pemuaian air laut, banjir, kekeringan dan tanah longsor serta badai, gelombang laut yang tinggi dan gelombang panas.

Dampak primer dan sekunder ini juga mengakibatkan dampak turunan. Diantaranya peningkatan volume air laut, terganggunya sistem aliran air laut, tergenangnya kawasan pesisir dan daerah landai, kerusakan infrastruktur, wabah penyakit, kematian, panen dan ketahanan pangan terganggu.

Terjadinya perubahan iklim dengan dampaknya, terjadi lebih didominasi oleh ulah manusia. Perilaku masyarakat yang boros dalam pembakaran karbondioksida (CO2), reklamasi, penebangan hutan dan bakau, buang sampah sembarangan, pemborosan bahan bakar merupakan diantara penyebab terjadinya perubahan iklim oleh ulah manusia.

“Perilaku masyarakat harus berubah, agar tidak melakukan “dosa” bagi generasi mendatang. Masyarakat harus lebih mencintai dan turut menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Memang, terjadinya bencana pada dasarnya tidak luput dari perilaku manusia. Jika kita mau kembali membuka kembali Alquran, tampak jelas bahwa bencana alam dan krisis lingkungan akibat dari ulah merusak sebagian dari umat manusia.

Kerusakan lingkungan telah lama disinyalir dalam Al Qur’an. Dalam sebuah ayat Allah berfirman,”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum[30]:41).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi disebabkan ulah tangan manusia. Bencana yang datang silih berganti bukan fenomena alam. Akan tetapi karena prilaku merusak manusia sendiri yang telah merusak alam ciptaan Allah.

Dalam Islam sudah sangat terang bahwa bumi, alam, dan lingkungan diciptakan Allah SWT bukan tanpa arti. Penciptaan alam, lingkungan, bumi merupakan tanda keberadaan Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an bahwa terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya di bumi ini.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,”(QS Adz-Dzariyat [51]:20).

Dalam Al Qur’an, Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman,”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir,”(QS Al-Jatsiyah [45}:13).

Ayat inilah yang menjadi landasan teologis pembenaran Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Islam tidak melarang memanfaatkan alam, namun ada aturan mainnya. Manfaatkan alam dengan cara yang baik (bijak) dan manusia bertanggungjawab dalam melindungi alam dan lingkungannya serta larangan merusaknya.

Manusia sebagai khalifah (wakil atau pengganti) Allah, salah satu kewajiban atau tugasnya adalah membuat bumi makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia.

Kini manusia harus lebih ramah terhadap alam semesta melebihi sebelumnya. Untuk mewujudkan kedamaian dan keseimbangan dengan lingkungan, manusia harus memiliki ikatan yang kokoh dengan pencipta alam semesta. Orang yang mematuhi aturan ilahi, maka ia juga memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam semesta.

Merusak dan mencemari lingkungan menyebabkan terjadinya berbagai bencana seperi kekeringan saat ini. Untuk itu, Islam mengharamkan setiap tindakan yang merusak alam. Dalam Islam, kerusakan lingkungan juga mengakibatkan kerusakan sosial yang menyebabkan terjadinya perampasan terhadap hak jutaan orang. Saatnya menjaga kelestarian lingkungan. (zaki)

banjir

SHARE

NO COMMENTS