SHARE

Kundur, Isukepri.com – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) dikawasan Tanjungbatu, Kundur yang terjadi sejak 3 tahun terakhir ini tampaknya tidak begitu digubris oleh pemerintah Kabupaten Karimun. Hal ini terbukti dari kelangkaan BBM di wilayah Kundur sampai saat ini belum juga menemukan titik terangnya sehingga berdampak buruk kepada Masyarakat khususnya Kundur yang harus mengantri panjang untuk mendapatkan minyak bensin. Disamping harus mengantri, mayarakat juga terpaksa merogoh kantong dalam-dalam karena bensin yang tersedia dijual dengan harga mahal.

Muhammad Saputra, Mahasiswa Kundur yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Kundur (HIMK) mengatakan dengan pekerjaan mayoritas masyarakat Kundur sebagai petani dan nelayan, hal ini dianggap sangat mengganggu aktifitas keseharian mereka karena terpaksa tidak melaut dan beraktifitas hanya karena kelangkaan bensin.

Muhammad Saputra, Mahasiswa Kundur yang tergabung didalam Himpunan Mahasiswa Kundur (HIMK) mengaku ironis dengan keterbataan premium di Kundur pada tahun 2011 lalu, harga bensin yang seharusnya hanya Rp 5000,- per liter berubah menjadi Rp 8000 hingga mencapai angka Rp 10.000 per liternya, itupun jumlah bensin masih terbatas dan tidak merata. Ditambah lagi dengan harga bensin botolan dipinggir jalan yang kini harganya meningkat sampai Rp 15.000 per botol dengan takaran kurang lebih hanya 1 seperempat liter.

“sudah mahal harganya, mau mendapatkannya saja susah. Padahal menurut Kepala Bagian Ekonomi Pemkab Karimun persediaan BBM khusus premium untuk kundur sudah lebih dari cukup dengan pasokan 450 kilo liter untuk setiap bulannya,” kata Putra yang mengaku saat ini sedang dikampung halamannya Kundur, Jumat (21/2).

Seharusnya kata Putra, pemerintah setempat tidak menutup mata dengan kondisi miris ini, tidak hanya diam dan membiarkan persoalan masyarakat berlarut tanpa ada solusi yang diberikan. Dirinya menganggap pemerintah sedang bersandiwara dan berpura-pura buta tuli dengan kondisi yang sedang masyarakat Kundur hadapi. Berdasarkan info yang didapat Putra dari media lokal, kelangkaan minyak bensin di Kundur disebabkan oleh adanya aktifitas penimbunan dan penyeludupan minyak kedaerah luar yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab dan hanya mementingkan keuntungan pribadi.

“Hal ini terbukti pada tahun 2013 lalu, tertangkap tangannya seorang agen minyak yang membawa sebuah speedboat agata berisi dua jerigen besar minyak tanah yang akan dijual ke Penyalai, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Penyeludupan lainnya juga, seperti yang pernah digagalkan saat ingin menyeludupkan empat jerigen besar atau sama dengan sekitar 140 liter ke Danai, Kecamatan Bandung Jaya, Kabupaten Pelalawan, Riau,” terang Putra

Menurutnya, sampai saat ini belum terlihat adanya tindakan tegas dari pemerintah setempat untuk menertibkan penyeludupan, penimbunan, dan para pengencer minyak yang melanggar aturan dengan memberikan sanksi dan mencabut izin usahanya sehingga memberikan efek jera kepada yang setiap pelaku.

“Disaat minyak langka jumlah para pengecer minyak juga semakin banyak, ditambah lagi dengan harganya yang tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah. Jumlah pengecer yang kian menjamur juga karena tidak ada teguran tegas dari pemerintah, pemerintah tidak sigap dalam menangani masalah ini. Kemana saja tim pengawasan BBM dikundur yang telah dibentuk?,” lanjutnya.

Putra menyayangkan jatah minyak yang seharunya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kundur, kini malah dijual ke daerah luar Provinsi. Perhatian dan pengawasan pemerintah terkait permasalahan ini terkesan lamban dan masih minim. Putra menilai jika tidak segera didesak, pemerintah tidak akan turun tangan.

Sampai saat ini menurutnya, Pemerintah Kabupaten sama sekali belum turun langsung melihat kondisi dilapangan, padahal pengaduannya sudah sampai ketingkat Provinsi. Putra pun sedikit menyinggung Tim pengawas BBM di Kundur yang mendapatkan kucuran dana dari DPRD untuk mengatasi permasalahan kelangkaan BBM.

“Kemana anggaran Rp100 juta setiap tahunnya yang telah disahkan DPRD untuk tim pengawasan BBM di Kundur, kok sampai saat hari ini permasalahan kelangkaan minyak belum teratasi,” kata Putra heran.

Terakhir Putra berharap kepada pemerintah untuk menyelidiki permasalahan dan kemudian memberikan solusi sehingga kelangkaan BBM tidak terus berlarut. Mentikapi persoalan tersebut menurut Putra, pemerintah harus lebih tegas dan tak pandang bulu mencabut izin para agen yang berlaku curang. (IWAN*)

NO COMMENTS