SHARE

DIAN FADILLAH, S.Sos

Wakil Ketua Dekopinwil Provinsi Kepri

Opini, IsuKepri.com – 1 Syawal merupakan waktu yang berbahagia bagi setiap umat Islam. Banyak masyarakat memulai syawal dengan puasa 6 hari berturut – turut yang dikenal dengan puasa syawal, malahan ada yang melakukan hajat pernikahan, khitanan ataupun doa selamat pada waktu ini.

Moment itu juga, sangat berarti karena dianggap sudah berhasil menjalankan ujian selama puasa 1 bulan penuh.

Hal itu hanya bisa dirasakan secara jujur kalau yang bersangkutan secara betul – betul melaksanakan puasa Ramadhan dengan penuh. Penuh puasanya, penuh ibadahnya, dan penuh amal kebaikan wajib dan sunnahnya.

Semua itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian hamba kepada Nya. Syawal dapat dijadikan suatu tanda yang dijadikan awal kehidupan manusia dimulai. Diibaratkan dalam sebuah kehidupan, bahwa manusia dianggap terlahir kembali sebagai layaknya kertas putih.

Kelahiran itu sebagai fitrahnya yaitu manusia yang tidak berdosa. Bersih tanpa noda dan dosa. Keberadaan manusia itu merupakan momentum yang dapat dijadikan langkah awal suatu tindakan berikutnya untuk menjadikan manusia dengan predikat taqwa.

Taqwa dengan sebenar – benarnya taqwa. Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan penilaian manusia yang mendapat predikat taqwa adalah :

  1. Dapat melaksanakan Shalat berjamaah 5 waktu di Masjid atau Mushalla secara terus menerus (Hablum minallah).
  2. Dapat melakukan puasa – puasa sunat selain Ramadhan dan dapat merasakan penderitaan orang lain sebagai sikap hubungan sesama manusia (Hablum minannas).
  3. Makan dan minum yang tidak berlebih – lebihan.
  4. Peningkatan mutu atau kualitas kehidupan manusia untuk lebih baik dari waktu sebelumnya.

Begitu banyak contoh yang dapat diambil dalam kehidupan saat ini. Sebagai salah satu contoh kehidupan yang diharapkan adalah kalau sebelum Ramadhan kita suka malas – malasan maka setelah Ramadhan kita harus lebih giat berusaha. Kalau sebelum Ramadhan kita dahulu suka pelit (medit atau haji bakhil), maka setelah Ramadhan kita rajin berinfaq dan bersedekah dalam bentuk uang, benda atau semiskin – miskinnya dalam bentuk senyuman dan doa. Kalau sebelum Ramadhan kita banyak menyakiti hati orang lain dan bergunjing dan selalu mencari kesalahan orang lain, maka saat ini hal itu dihilangkan dan sekuat tenaga untuk dapat dihindari.

Bentuk nyata dan karya nyata yang diharapkan adalah seberapa besar kemanfaatan kita sebagai manusia setelah Ramadhan menuju insan yang mempunyai manfaat bagi manusia lain. Kemanfaatan manusia itu dapat dilihat dari prilaku sehari – hari diantaranya prilaku yang lebih baik, berkata yang lebih baik, bertegur sapa dan berbicara yang lebih sopan. Semua yang dilakukan setidaknya dapat membantu dan menyenangkan manusia lain. Karena, apabila kita dapat menyenangkan dan membantu orang lain secara ikhlas maka yakinlah Allah SWT Sang Maha Pencipta akan membantu dan membalas dengan hal yang sama atau lebih dari itu dari jalan yang tidak dikira – kira dan disangka – sangka oleh manusia (sabar dan shalat). Selamat datang di kehidupan baru yang lebih baik. (*)

SHARE

NO COMMENTS