SHARE

Menjalani masa kanak-kanak ketika menginjak usia pendidikan sekolah dasar, tidaklah mudah untuk dijalani Eddiwan ketika itu. Menyesuaikan dinas sang ayah sebagai Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan di Dabo Singkep Kabupaten Kepulauan Riau, Eddiwan tidak mempunyai tempat domisili tetap. Akhirnya, Eddiwan terpaksa menjalani pendidikan dasar dibanyak sekolah dasar.

Pendidikan sekolah dasar yang dijalani putra pasangan Kamarudin Nordin dan Ngatinem ini, berpindah-pindah. Mulai pertama bersekolah di Selatpanjang pada 1970 sampai kelas 5, Eddiwan terus berpindah, seperti di Bengkalis, Bagansiapiapi dan ke beberapa pulau di kawasan Riau sampai Iamenamat pendidikan dasarnya di SD Negeri 19Pekanbaru pada 1976.

Merasakan sulitnya menjalani pendidikan yang berpindah-pindah, membuat Eddiwan memilih untuk mandiri dengan cara kost diusianya yang masuk pada jenjang pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 4 Pekanbaru. Tapi dengan sekolah yang berpindah pindah dan menjalani hidup sendiri dan mandiri di Pekanbaru, justru menimbulkan keseriusan belajar dan tekadnya untuk berhasil tersebut membuahkan prestasi sehingga dari SD, SMP, dan SMA, beasiswa pendidikan selalu diterimanya.

Dengan intelektual yang melebihi remaja seusianya, menjalani pendidikan jurusan IPA di SMA Negeri 1 Pekanbaru, Eddiwan sudah mengajar bimbingan Bahasa Inggris di SMP dan SMA.Sehingga sedikit banyak, pekerjaan paruh waktu itu bisa membantunya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sampai pada kelulusannya di SMA tersebut pada 1983 dan beasiswa yang diperoleh, Ia kembali melanjutkan perkuliahan jurusan Tekhnologi Penangkapan Ikan Fakultas Perikanan di Universitas Riau (UNRI) hingga menyandang gelar S1 pada 1987.

Dari prestasi di Unri, di tahun1992,Eddiwan melanjutkan S2 dengan gelar MSc di jurusan Marine BiologydiUniversitas Ryukyu di Okinawa Jepang menggunakan Monbukagakusho Scholarship, dan menyelesaikannya pada 1995.“1 tahun antara 1992 ke 1993 saya belajar bimbinganBahasa Jepang di Jepang.Jadi 1993 masuk program perkuliahan dan lulus pada 1995,”ucapnya.

Sepulangnya dari Jepang pada 1995, Eddiwan kembali berkesempatan memperoleh gelar Master’s Degree (M.Phill)dengan beasiswa British Council ke Liverpool Universityjurusan Marine Pollution di Inggris dan selesai pada 1997.

Selesai dari Inggris, pada 1998 Eddiwan kembali melanjutkan pendidikannya keHarvard University di Boston Amerika Serikat jurusan Marine Science dengan menggunakan beasiswa Fulbright dan selesai tahun 2001. Namun, sebelum pulang ke Indonesia, Eddiwan sempat bekerja di Costarica selama 1 tahun.dan menjalani Postdoctoral di Tokyo University selama 6 bulan pada tahun 2003.

Selama menjalani masa pendidikannya yang masuk dan pergi ke luar negeri, Eddiwan yang menjadi dosen tetap Universitas Riau, juga sempatbekerja di beberapa perusahaan swasta asing seperti perusahaan PT. Grobest milik Korea, menjadi konsultan bidang perairan dan lingkungan di Jakarta dan juga aktif sebagai konsultan di Asia Development Bank.

Menurutnya, menjabat sebagai Asisten Manager di perusahaan swasta asing inilah, pada awalnya Ia tak terfikir untuk bekerja di pemerintahan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi karena kebetulan perusahaan tersebut sudah berakhir kegiatannya di Indonesia dan pindah ke Philipina, Ia sempat juga diajak pindah ke Philipina. Tetapi, ditahankedua  orang tuanya dan memberi ijin, terpaksa Eddiwan menetap di Indonesia dan mencoba mencaripekerjaan di antaranya ke Lippi dan universitas. “Bersyukur kedua-dua lembaga tersebut menerimanya, konon di Lippi, Ia akanditempatkan di stasiun mereka di Ambon dan di universitas merupakan pengalaman awalnya menjadi dosenkelautan di Unri pada 1990. Kemudian pada 1991Ia pundiangkat jadi PNS.

Di tahun 2006, Ia diminta untuk bergabung dengan Tim Konsorsium Universitas oleh Gubernur Kepri, Ismet kala itu dalam rangka untuk mendirikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dengan tugas utama untuk mengurus pendidikan Umrah mulai dari membuat studi kelayakan, mengurus ijin, pembangunan sampai penerimaan mahasiswa tahun pertama.

“Setelah terbentuk Umrah, dalam srtuktur Umrah tersebut Presedium pertamanyaadalah Pak Ismet, dan Wakil Presediumnya saya, sampai pada penerimaan mahasiswa pertama pada tahun 2007. Namun dalam perjalannnya, saya dipindah oleh Gubernur di Pemprov Kepri dan dipekerjakan ke Dinas Pendidikan, sebagai Kabid Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Luar Sekolah,” ucapnya.

Waktu itu sambungnya, gubernur meminta kepada Eddiwan supaya mempersiapkan dan merancang pembangunan Universitas Umrah dan mendukung pendidikan tinggi di Kepri ini supaya lebih baik. Kemudian mulailah saya menyusun

perencanaan pembangunan Umrah 5 tahun ke depan termasuk perencanaan kampus yang sekarang berada di Dompak. Jadi, mulai dari pembentukan hingga model rancangan bangunannya (DED)itu  dibuatnya pada masa ketika Ia masih di dinas pendidikan. Kemudian dalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS), kita sambungnya mengembangkan modelPKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)  dan selanjutnya model ini digunakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional untuk program PLS di seluruh Indonesia. Dalam program pendidikan tersebut, disitulah nantinya berkumpulnya semua jenis pendidikan masyarakat, ada life skill, home skill, kursus dll.

“Saya kemarin mau mengembangkan Homeschooling, yaitu pendidikan khusus untuk orang berbakat,tetapi sayangnya maksud tersebut belum tercapai.Selanjutnya saya sudahdipindahkan ke DKPProvinsi Kepri pada 2009,  di Bidang Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan,”tambahnya.

Dalam meniti perjalanan karir dan kehidupannya, menurut Ediwan, yang paling menarik itu kebiasaannya dalam bekerja sendiri.

“Dari dulu hidup sendiri, bekerja sendiri, memutuskan segala sesuatu itu sendiri, menghadapi masalah pun sendiri.Rupanya, kebiasaan inilahyang menolong saya ketika bersekolahke luar negeri dan sekarang bekerja di Provinsi Kepri itu salah satunya. Ketika saya waktu itu bekerja di Jakarta begitu tamat S1, saya tak punya modal untuk berangkat ke Jakarta, cuma bawa ijazah satu, dan tiket pergi ke Jakarta dan itupun cuma tiket bus, tiket pulang pun tak dikasih,dan gambaran hidup seperti apa Jakarta pun tidak dikasih taupada tahun 1987 sampai 1989. Itulah saya berjuang hidup sendiri di Jakarta sampai memperoleh pekerjaan di sana. Karena terbiasa sendiri dalam bekerja, Ia menambahkan, sebab itu percaya diri saya jadi semakin tinggi”paparnya.

Menurut Ediwan, keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh orang tua, tetapi ditentukan oleh diri sendiri (kemandirian). “Contoh saya, kalau waktu itu ikut orang tua pindah ke pulau-pulau, dan tak berani untuk kost mandiri, maka saya bisa jadi nelayan dan tak jadi seperti sekarang,” katanya.

Sebab kualitas diri pribadi itu ada pada  diri orang itu sendiri, lingkungan hanya mempengaruhi. Sambungnya, jika kita punya pendirian yang kuat dan perencanaan yang baik, lingkungan itu tidak akan ada apa-apanya, terhadap persoalan maju mundurnya seseorang itu. Jadi semua tergantung pada diridia sendiri, maka itu perlunya sekolah dan kemandirian.

“Saya percaya dengan aspek intelektual yang baik pada seseorang dan nilai moralitas yang baik maka akan dapat tingkatkan kualitas hidup.Ketika orang tidak punya intelektualitas dan moralitasnya tidak teruji, maka dia tidak ada apa-apanya.Intelektualitas tidak bisadiukur dengan materi, sedangkan moralitas tidak diukur dari penampilan. Jadi, perlu diingat, kebahagian tertinggi itu diperoleh ketika kita bisa berbuat sesuatukebaikan atau manfaat bagi  orang banyak, dan hidup yang paling ideal itu adalah bekerja hati-hati dan teliti  serta berfikiran smart,”ucap suami dari Marta Ruilis tersebut.

Menjalani kesibukan dinas, ayah dari 3 anak ini mengaku masih tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga melalui telepon. Namun Ia yakin, pada prinsipnya, dalam keluarga itu yang paling penting itu pengertian, komitmen kemudian ada target dan tujuan. Jadi, sejauh kita itu punya kepercayaan, komitmen, tetap pendirian dan sejauh kita punya target dan sasaran yang mau dituju, maka tak ada persoalan yang harus ditakuti dalam kehidupan ini.

“Kehidupan itu akan bermasalah, ketika prinsip dan rencana hidup itu sendiri tidak jelas, tidak ada rasa percaya diri, tidak ada target dan sasaran yang jelas.tujuan, 4 macam itu menjadi pemicu timbulnya persoalan di belakang nanti. Di sisi lain, ada pendapat dari sebagian orang bahwa keberhasilan seorang anak ditentukan oleh faktor ‘tinggal bersama’ dalam satu rumah bersama orang tuanya, sedang pada kenyataannya, banyak anak yang berhasil meskipun tidak tinggal bersama dengan orang tua atau keluarganya. Dan belum ada yang bisa menjamin seseorang untuk berhasil dalam factor tersebut saja,”tutur Ediwan.

SHARE

NO COMMENTS