SHARE

Profil

Syamsul Akbar, PgDip, M.Si

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau

 Memiliki keinginan untuk selalu bermanfaat bagi orang lain, ternyata memberikan nilai tambah pada setiap sikap dan pengaruh seseorang dalam memainkan perannya. Seperti yang disampaikan Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau, Syamsul Akbar, bahwa selama hidup, ia sangat ingin berguna bagi orang lain dan merugi apabila waktu yang dihabiskannya tidak bisa digunakan untuk hal – hal yang bermanfaat.

Pilihan hidup itu, disampaikan putra Binjai Sumatera Utara, kelahiran 30 November 1961 silam ini, lantaran pengalaman hidup yang ia jalani tidaklah semudah yang dipikirkan.

Syamsul Akbar yang sangat disayangi dengan ibunya Badi Ulzaman (Alm), terpaksa harus kehilangan Sang Ibu ketika menginjak usia di bangku sekolah dasar kelas 4. Masa – masa bersama ibu yang dilalui sampai ikut membantu Ibu berjualan jagung rebus dalam rangka menambah pendapatan keluarga terasa begitu cepat, sehingga genap kelas 4 tersebut, ia berjualan dengan saudara kandungnya. Apalagi, pensiunan dari kepolisian Ayah Ahmad Yunan (Alm) tidaklah cukup untuk dirinya dan delapan saudara yang lain.

Lantas untuk biaya jajan dan sekolah, Syamsul bukanlah anak yang bisa mudah meminta uang dengan orang tuanya. Sepeninggalan sang Ibu, Ia benar – benar merasa kehilangan, oleh sebab itu, demi keberhasilan ia rela mencari barang bekas untuk ditukarkan dengan uang guna memenuhi biaya sekolah dan jajan sehari – hari, hal itu dilakukannya dari kelas 4 sekolah dasar hingga kelas kelas 3 menengah pertama.

Sulitnya perjuangan masa kecil Syamsul, tidak membuatnya patah semangat. Justru dengan hidup yang seperti itu, Syamsul berupaya serius dan bertekat agar berhasil. Terbukti, di antara 9 bersaudara, hanya Syamsul Akbar yang menjadi sarjana dan mencapai gelar S3.

Namun sebelum itu, ketika mencapai kelulusan di sekolah menengah umum pada tahun 1982, Syamsul sempat menganggur cukup lama, sampai katanya, keinginannya untuk sukses itu hampir tidak tercapai. “Saya di Binjai waktu itu, hampir kehilangan arah. Sampai akhirnya saya menerima tawaran abang ipar di Jakarta untuk ikut bersamanya,” ucap Syamsul.

Begitu di Jakarta, ia mendapat perlakukan disiplin dan binaan serta dicarikan bimbingan Bahasa Inggris. Usai itu, ia mencoba masuk ke Universitas Gajah Mada Kehutanan dan Ekonomi Universitas Indonesia yang tesnya dilakukan di Institut Pertanian Bogor, dengan hasil tidak lulus di keduanya.

Sampai akhirnya ia mengikuti Diklat AUP (Sekolah Tinggi Perikanan) Jakarta dan lulus 1986 dengan sistem pendidikan semi militer. Sampai ia memperoleh pekerjaan di Balai Budidaya Laut Lampung berstatus honorer non gelar selama hampir 3 tahun. Padahal, sewaktu lulus dari AUP Jakarta, ia diterima di Medan, karena alasan penolakan sendiri, ia lebih memilih bekerja di Lampung.

Setelah SK CPNS baru mau keluar, ia mendapat beasiswa pendidikan di Institute of Aquaculture, University of Striling Scotland, UK, dan lulus tahun 1990. “Sekolahnya sendiri cuma 1 tahun, cuma 6 bulan pertama saya dikursuskan bahasa Inggris di Scoltland dan pulang kembali ke Indonesia pada 1991, dan melanjutkan kembali pekerjaan di Lampung. Tidak cukup sampai disitu saja, hausnya Syamsul terhadap ilmu pengetahuan membuatnya terus belajar sampai mengikuti Aquaculture training and study tour around Euro (Belgia, Luxemburg, Balanda, Prancis dan German) pada 1991, Aquaculture training di Taiwan tahun 1996, Seminar and Exhibition di China pada 2001, Comperative Study on Aquaculture In France pada 2006, Comperative Study 0n Aquaculture Development In Vietnam pada 2007, Comperative Study on Aquaculture Development in China 2008 dan mengikuti Seminar and Exhibition in Thailand pada Nopember 2011.

Dari pengalaman di dalam dan luar negeri, Syamsul Akbar menulis sebuah buku pertama dan perdana di Indoseia dengan judul Buku Meramu Pakan Buatan Untuk Ikan Kerapu, diterbitkan oleh PT. Penebar Swadaya, Jakarta Cetakan I tahun 2000, saat ini sudah cetakan IV.

Dan lanjut penulisan buku ke dua berjudul Pembenihan dan Pembesaran ikan Kerapu Bebek, diterbitkan oleh PT. Penebar Swadaya, Jakarta, Cetakan I tahun 2001, saat ini sudah cetakan III. Dengan total sebanyak delapan buku sudah ia tulis dan terbit.

Sampai pada tahun 2002, ayah dari tiga anak ini dipromosikan menjadi Kepala Balai Budidaya Laut di Batam dan menjabat selama 7 tahun. Masuk ke 2009, Syamsul memilih untuk berkiprah di Provinsi Kepulauan Riau.

“Dari pengalaman itu, saya selalu memotivasi kawan – kawan, bagaimana mereka bisa bekerja dan bermanfaat bagi orang lain. Saya pun sering bertukar pendapat ke mereka. Bukan mendoktrin, tetapi memberikan solusi bagaimana menumbuh kembangakan cara berfikir mereka nanti agar bisa bermanfaat bagi orang lain,” papar suami dari Bayaub ini.

Komunikasi yang sering dilakukannya bersama kawan – kawan di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri, sambungnya, karena bercita – cita agar hidup itu bisa bermanfaat bagi orang lain

SHARE

NO COMMENTS