SHARE

Tanjungpinang, IsuKepri.com – Menghadapi arus perdagangan global, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 mendatang, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tanjungpinang menyebutkan, MEA 2015 kurang disosialisasikan maka Tanjungpinang belum siap menghadapi arus perdagangan global mendatang.

“Saya menilai dan jujur katakan, kita belum siap untuk menghadapi arus perdagangan global MEA 2015,” papar Ketua Kadin Tanjungpinang, Bobby Jayanto, Jumat (7/11).

Menurut dia, apabila dipaksakan siap menghadapi MEA 2015 tersebut, dikhawatir timbul konflik sosial terhadap mereka yang tidak memahami MEA itu sendiri.

“Menghadapi MEA 2015, kita tidak boleh diam. Bahkan selama ini, Kadin Kota Tanjungpinang sendiri sudah sering menyurati SKPD Kota Tanjungpinang untuk mensosialisasikan terkait MEA. Tapi SKPD tidak ada respon setelah dan sebelumnya kita surati,” tuturnya.

Terpisah, Sekdako Tanjungpinang, Riono menyampaikan optimis untuk menghadapi persaingan perdagangan global MEA 2015 mendatang.

“Langkah yang kita lakukan adalah memberi kesadaran masyarakat, artinya masyarakat Kota Tanjungpinang harus mampu menghadapi persaingan bebas pada MEA 2015, karena nanti akan menjadi penonton,” kata Riono.

Ia mengutarakan, menghadapi MEA 2015, Tanjungpinang telah  mempersiapkan dan banyak melibatkan beberapa sector dan program.

“Seperti melalui program yang dilaksanakan masing – masing SKPD terkait, pihak swasta termasuk UKM yang mampu bersaing dengan skala internasional,” ujarnya.

UKM, kata dia, harus berstandar ISO yang ditunjuk Disperindag sebagai pelaku pembinaan tentunya mengembangkan UKM dan menuju standar ISO.

“Pemko juga terus melakukan beberapa langkah untuk menghadapi MEA 2015. Seperti upaya yang kita lakukan, diantaranya pelatihan – pelatihan sebagai wujud gagasan Dinsosnaker,” paparnya.

Selain itu, kata Riono, rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya angka pengangguran di Kota Tanjungpinang, juga menjadi persoalan yang harus segera diselesaikan, serta ketidakjelasan FTZ Kota Tanjungpinang menjadi persoalan bagi investor.

“Untuk MEA itu sendiri saja, tidak semua masyarakat yang mengetahuinya. Sebab itu, ini merupakan tantangan terbesar yang harus kita sosialisasikan, Dan juga masalah lokasi, bagaimana kita mau menunjukkan lokasi kepada investor. Sementara, koordinat lahan belum jelas dan lahannya masih hutan,” tuturnya.

Selain lahan, sambungnya, juga masalah perijinan dan juga listrik yang menjadi kendala. Namun ia berharap, supaya antara pemerintah dan Kadin, dapat bekerjasama untuk mendatangkan investasi,” ujar Riono. (AFRIZAL)

NO COMMENTS