SHARE

Pola kerja yang di terapkan oleh Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau, semata-mata diucapkannya bukanhanya opini dengan alasanan fiktif. Justru pola itu terbentuk dari pengalamannya bekerja di Swasta dan Pemerintah, sehingga pemilik nama lengkap Relawan Zai yang hobi membaca buku bernuansa Filosifi ini, memiliki pola tersendiri dalam mengembangkan ide dan mendukung kreatifitas para personil yang dipimpinnya.

Bagaimana sosok pria lahir di Lahewa, 23 April 1965 merupakan anak terakhir dari pasangan  T. Bawo Zai (Ayah) dan N. Larosa (Ibu), harus berupaya mendaki arus budaya orang tua masyarakat di Pulau Nias yang pada umumnya selalu memanjakan anak. Apalagi, mengingat sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara, Relawan Zai bukanlah anak yang bisa mengikuti arus budaya tersebut.

Meskipun pada awal pendidikan sekolah dasar dan menengah pertamanya di Nias bersama orang tua, namun begitu menapak pendidikan tingkat menengah atas, Relawan Zai memilih untuk berpisah dari keluarganya dan tinggal sendiri di Medan. Padahal, di ibukota itu, ia masih memiliki keluarga yang siap menerima.

Bagi Relawan, keberhasilan Sang Ayah sebagai pegawai negeri waktu itu, menjadi pemicu baginya untuk bisa seperti Ayahnya. Dengan itu, di usia 15 tahun Ia lebih memilih untuk kost dari pada harus bergantung hidup dengan keluarga. Karena baginya, keberhasilan itu harus berangkat dari diri sendiri, bukan dari orang tua.

“Jadi, meskipun orang tua menyekolahkan dan membiayai anak dengan biaya yang tinggi, tetapi kalau tidak ada kemauan anak, ya sama saja. Jadi harus ada kemauan dari anak itu sendiri,” kata Relawan.

Usai menamatkan pendidikan wajib di SMA Negeri 3 Medan pada 1983, Relawan kembali mengejar kesuksesan sang Ayah dengan meniti pendidikan akademi Ahli Usaha Perikanan (AUP) di Jakarta.

Pada masa itu lah, transisi antara 1987-1988, sang Ayah yang menjadi pemicu semangatnya, meninggal dunia. Kemudian  dari sekolah ikatan dinas yang dijalaninya belum juga ada panggilan yang jelas.

Tidak diam menunggu hujan turun dari langit, pada 1987 Relawan bekerja sebagai Supervisor di perusahaan perikanan Perken Kendari  dan di posisi yang sama pada perusahaan Sumberwira Trikarya dan terakhir di PT Tirta Arta Mina Tanjung Uncang sebagai Manager Produksi.

Dari tiga perusahaan swasta tempatnya bekerja, Relawan memiliki pengalaman pribadi yang menurutnya, maju mundur swasta itu dari karyawannya juga, kalau karyawannya tidak produktif, perusahaan itu akhirnya tidak bisa berkembang. Sebab itu sambungnya, ada tantangan tersendiri di situ, untuk itu professionalisme sangat dituntut, dan bekerjalah sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.

Sedikit demi sedikit pengetahuan kepemimpinannya bertambah, terakhir sebagai Manager Produksi di  PT Tirta Arta Mina, dengan  karyawan lebih dari 200 personil ditambah lagi berlatar belakang yang berbeda tentulah timbul permasalahan  yang beragam. Disinilah seorang Relawan Zai memperkuat perannya sebagai pemimpin, karena bagi pria yang hobi makan Tongkol Putih ini, sebelum berada di atas, jejang karir itu sudah dimulainya dari bawah. Sebab itu Ia memahami bagaimana menjadi seorang bawahan dan bagaimana Ia menyikapainya ketika menjadi atasan.

“Sebagai pemimpin, kita harus mengetahui apa yang menjadi hak dan apa yang menjadi kewajiban bawahan. Haknya kita penuhi tapi kewajibannya kita tuntut,” ucap suami dari Erina Hia.

Akhirnya, pada 1991, barulah ia mendapat SK CPNS, yang langsung dipanggil oleh Kementerian Pertanian. Kemudian 1992, Relawan melaksanakan tugas perdana  sebagai seorang staf di Dinas Perikanan Provinsi Riau. Sekitar 9 bulan, ia pun dipindahkan ke Laboratorium Pembinaan Perikanan di Tanjungunggat.

Tidak puas dengan jenjang pendidikannya, pada 1994 Ia pun masuk di Sekolah Tinggi Perikanan setara dengan S1. Tamat tahun 1995 dengan gelarnya Ahli Perikanan  (A.Pi). Di tahun 2000, Relawan pindahkan ke Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Riau, kemudian diangkat menjadi Kepala Seksi Pengolahan dan Pembinaan Mutu pada Diskanla Kabupaten Kepulauan Riau. Pada 2001, Ia memulai jabatan struktural dengan jabatan eselon IV.

“Di jabatan eselon  IV saya 2 kali mutasi jabatan, Kepala Seksi Pengolahan dan Pembinaan, ke 2 Kepala Sub Bagian Penyusunan Program,” imbuhnya.

Dari Kasubag perencanaan , pada 2007-2008 Relawan menempati jabatan sebagai  Sekretaris di  Dinas Kelautan dan Perikanan Bintan. Setahun delapan bulan menjabat sebagai sekretaris, Relawan kembali diangat menjadi Sekretaris di Badan Pelaksanaan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan di Kabupaten Bintan, sampai pada 2010 ia menjadi sekretaris di Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bintan Berakhir sampai Maret 2011, Relawan Zai  ditempatkan di posisi sebagai Sekretaris di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri dari  8 Maret 2011 hingga kini.

Dari pengalamannya di sektor swasta dan ranah pemerintahan, Relawan Zai menganggap keduanya memiliki persaman, tergantung pada individu yang bekerja. “Menurut pribadi saya sebenarnya antara swasta dan pemerintah itu sama, tergantung individunya, siapa yang memimpin dan siapa karyawan atau pegawainya.  Masalah disiplin itu sama sebenarnya, jadi kembali ke diri kita sendiri,” ucapnya.

Bahkan untuk pola kerja, sambung Relawan begitu waktu masuk pegawai negeri. Apa yang dialami di swasta itu terbawa-bawa ketika di pegawai negeri, yang pada dasarnya untuk suatu perubahan perlu ada penyesuain. Sebab itu katanya, butuh penyesuaian, baik kepada teman maupun kepada atasan. Dan pastikan kita bekerja sesuai perintah atasan, sama seperti swasta.

“Di dalam suatu kelembagaan atau lingkup kerja, janganlah mencontoh yang baik. Meskipun penilaian dan perlakukan pimpinan tetap sama kepada yang baik dan yang kurang. Contoh Si A rajin dan Si B tidak, tetapi di dalam perlakukan sama. Sebagai Si A, kita tidak perlui berkecil hati, tak usah difikirkan itu, yang penting kita sudah menjalankan tugas dengan baik,” paparnya.

Akan hal itu, ia mengatakan, anggap tugas itu bagian dari Iman, jadi yang melihat itu di Atas, dan dengan keyakinan dan keikhlasan dalam bekerja.

Dari itu, Relawan memiliki cara tersendiri dalam memimpin,  terlebih untuk mewujudkan ide kreatif, sambungnya harus selalu ada komunikasi dan kordinasi antar sesama dan ke atasan.

Sebab itu, dalam menjalankan karir dengan posisi strategis yang dimilikinya, Relawan Zai memilih untuk selalu profesional dan ikhlas dalam bekerja.

“Profesional, ikhlas dan bekerjalah dulu, kita bekerja jangan berfikir  pekerjaan yang dilakukan ada imbalan ke saya. Itulah pola kerja saya, jadi pekerjaan itu jangan ditunda-tunda dan langsung dirampungkan, jadi jika pekerjaan itu bisa diselesaikan hari ini, mengapa harus tunggu besok.”ucap peraih Juara 2 Tunggal Putra Tenis Meja Porpda tahun 2002 se Provinsi Riau.

Meskipun menuntut untuk selalu professional, Relawan yang menikah dengan Erina Hia pada 26 Juni 1993 dikaruniai 3 anak ini masih tetap bisa berkumpul dengan keluarganya menghabiskan waktu liburnya bersama sang buah hati Renita Solinia Zai, Renata Giovanni Zai dan Renarda Juan Aprilian Zai. Karena menurutnya, keberhasilannya itu juu atas dukungan dan doa keluarga.

 

 

 

SHARE

NO COMMENTS