SHARE

Oleh : RAMDAN

Disaat lapangan kerja semakin sulit dan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK ) dimana – mana, justru keberuntungan berpihak pada Kader. Pria berusia 65 tahun ini memanfaatkan keahliannya dalam membuat bubu untuk menangkap ikan di laut lepas.

Profesi yang sudah ditekuninya sejak dua tahun terakhir ini pun mendapat respon dari beberapa pengusaha penangkap ikan di Kijang. Sehingga, Kader pun mendapat order borongan dari pengusaha untuk membuat bubu mereka.

Bahkan, tak tanggung – tanggung akibat banjir orderan, Kader dan 5 orang pembantunya tidak henti – hentinya merakit bubu – bubu tersebut dari pagi hari hingga subuh untuk menyiapkan pesanan sang majikan.

Pria ini juga tidak kenal lelah, yang dirasakannya untuk menghidupi keluarga serta 9 orang anaknya.

“Kalo capek ya sangat capek, pinggang yang sangat terasa

sekali jika kerja sampai subuh. Karena pesanan toke harus cepat selesai dan kitapun cepat dapat bayarannya, karena sistem borong,” ucap Kader.

Dalam setahun, Kader kebanjiran orderan pembuatan bubu dari bulan dua hingga angin utara sekitar bulan sebelas. Sementara waktu senggang atau orderan hanya sedikit sekitar bulan dua belas hingga bulan satu.

“Waktu senggang itu penghasilan cukup saja untuk makan, kalau banjir orderan bisa meraup penghasilan sampai Rp30 juta satu bulan kotor dan bisa menggaji anak buah,” ujarnya.

Dalam satu gulung kawat untuk bahan pembuat bubu bisa mendapat 11 bubu yang sudah siap dirakit. Satu bubu, Kader diberi upah Rp50 ribu. Sementara 5 orang pekerjanya yang bertugas merakit bubu dengan besi dan tali dibayar Rp15 ribu satu bubu per orang.

“Alhamdulillah, hingga saat ini selalu ada saja toke yang mempercayakan pada saya untuk membuat bubu mereka. Inilah satu – satunya sumber mata pencarian saya dalam mengisi hari tua ini,” imbuhnya. (***)

NO COMMENTS