SHARE

Reformasi merupakan bagian dari dinamika masyarakat, dalam arti bahwa perkembangan akan menyebabkan tuntutan terhadap pembaharuan dan perubahan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan tersebut. Namun, makna reformasi dewasa ini banyak disalah artikan. Maraknya gerakan masyarakat mengatasnamakan gerakan reformasi, tapi melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan makna reformasi. 

Pada era Reformasi, pelaksanaan demokasi Pancasila telah banyak memberi ruang gerak kepada parpol dan komponen bangsa lainnya termasuk MPR/DPR mengawasi dan mengontrol pemerintah. Namun, di era reformasi ini juga, Pancasila seakan tidak memiliki kekuatan mempengaruhi dan menuntun masyarakat. Elit politik dan masyarakat terkesan masa bodoh dalam melakukan implementasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pancasila seperti sebuah wacana saja di tengah kehidupan bangsa yang semakin ramai oleh isu politik. Reformasi juga melahirkan sistem yang terlalu longgar dan liberal bagi masuknya ideologi yang merusak nilai-nilai Pancasila. Yang lebih parah, kalangan generasi muda saat ini tidak diajarkan sejarah Indonesia secara efektif. 

Pancasila saat ini, tidak tergambarkan lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal dulunya Pancasila itu merupakan jati diri bangsa Indonesia yang dikenal dengan sikap toleransinya. Hal ini dikarenakan, pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila sudah ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat kita. Akibatnya, Pancasila ditafsirkan secara bebas sesuai dengan kemampuan pribadi dan selera masing-masing. 

Sampai kapan pun, kita merasa bahwa Pancasila masih tetap relevan. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita kembali memahami nilai-nilai Pancasila yang sudah lama kita “tinggalkan”. Untuk memahami kembali nilai-nilai itu haruslah diawali dengan membangun kesadaran dan kesediaan untuk menerima kembali Pancasila dengan sepenuh hati. 

Teddy Sanjaya 
Jakarta Timur 

SHARE

NO COMMENTS