SHARE

Tanjungpinang, Isukepri.com – Es Apollo merupakan minuman khas di Kota Tanjungpinang. Masyarakat Tanjungpinang tentu telah mengenal yang es Apollo yang terbuat dari perpaduan antara tapai, kacang polo (merah), agar-agar, cendol dan roti dan memiliki kualitas rasa nomor satu di kota ini.

Minuman ini berhasil populer di Tanjungpinang dan bertahan hingga puluhan tahun. Meski mempertahankan nama dan kualitas dalam waktu yang sangat panjang, es ini makin dikenal di masyarakat.

Hardi (58) adalah pemilik Es Apollo yang berjualan sejak tahun 1969 ini. Menurut para pelanggannya, memang nikmat rasanya dan bikin ketagihan. Selain itu memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki es lainnya.

Diceritakan Hardi, pemberian nama produknya Es Apollo terinspirasi peristiwa peluncuran Apollo ke-11. Es yang awalnya adalah es campur, sejak itu berubah menjadi Es Apollo.

“Dulunya es Apollo ini berasal dari es campur. Karena dulunya pernah terjadi peluncuran Apollo yang ke-11, saya merasa tertarik dengan nama Apollo. Oleh karena itu saya ganti menjadi es Apollo,” cerita lelaki paruh baya ini.

Keberadaan Es Apollo ini telah beberapa kali pindah tempat. Pertama kali buka lokasi usaha Hardi berada di samping SMP Bintan Jalan Gereja Ayam, kemudian pada Desember 1982 pindah ke Sunaryo. Di jalan Sunaryo, usaha es ini bertahan hingga 27 tahun. lantas pindah pada September 2009 ke Jalan Basuki Rahmat. Kini, Hardi sudah menempati lokasi sendiri di Jalan Ahmad Yani, Batu 5 Atas.

Dulunya, kata Hardi, untuk modal pembuatan es Apollo ia sempat menjual sepeda karena berharap mendapatkan rezeki yang lebih baik untuk kehidupan Hardi dan keluarga. Menurut pria kelahiran Sumatra Barat ini, pelanggannya akan sangat ramai pada hari libur dan musim panas.

”Kalau lagi musim panas, antri yang beli. Untuk hari-hari biasa saja sudah ramai. Hanya saja, jika musim hujan, pelanggan agak berkurang,” sebutnya.

Setiap pagi, Hardi harus kepasar mencari bahan pembuatan es apollo untuk dijualnya pada siang harinya. Karena hanya bekerja sendiri hingga ia hanya bisa membuka usaha es Apollo dari siang hari. Tanpa kenal lelah, lelaki paruh baya ini melakukan rutinitas melayani pelanggan yang berkunjung.

“Es Apollo yang segar dijual Rp 6.000 per gelas kecil dan Rp 8.000 untuk ukuran gelas besar.  ”Biasanya buka dari jam 13.00 siang hingga pukul 18.00 WIB,” sebutnya.

Karena pelanggannya yang banyak, hingga meski terlihat wajahnya lelah, namun tetap saja Hardi bersemangat. Dari hasilnya membuka es Apollo warisan orang tuanya, kini dua anaknya sudah menyelesikan pendidikan di perguruan tinggi.

Kata Hardi, es Apollo memang berbeda dari es lainnya. Es ini memiliki ciri khas tersendiri yang ada pada kuah dan rasanya. Es ini mengandung gula pilihan, dan bukan gula sembarangan. Tekstur es Apollo ini agak unik dan rasanya berbeda dari minuman lainnya, hingga konsumen es Apollo ini selalu ramai.

”Makanya dalam pengolahan hingga pembuatan, saya sendiri yang melakukannya karena saya merasa tidak yakin jika orang lain yang mengambil alih pekerjaan ini. Saya takut adanya perbedaan rasa karena saya sudah tahu betul takaran untuk pemesanan es Apollo yang gelas kecil dan besarnya bagaimana,” terang ayah dua anak ini.

SHARE

NO COMMENTS