SHARE

Oleh : Mega Riyawati

Dewasa ini banyak sekali masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita. Masalah-masalah yang kita hadapi ini beragam jenisnya, mulai dari masalah keluarga, masalah ekonomi, masalah politik, masalah pendidikan, dan lain sebagainya. tidak hanya orang dewasa yang mengalami masalah-masalah hidup seperti ini, anak-anak yang beranjak remaja pun mengalami hal tersebut. Perceraian, korupsi, pelecehan seksual, kekerasan, penculikan, pencurian, serta ketidaksenjangan dalam kehidupan bersosial merajalela di sekitar kita. Harta terampas, nyawa terbang, keadilan tak jua didapatkan merupakan akibat dari problema hidup yang dialami masyarakat saat ini. Tentu kita bertanya-tanya dalam benak hati ini, mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa harus kita yang mengalaminya? Bahkan untuk orang-orang yang sudah putus asa dan mendramatisir masalah yang dihadapinya kerap kali menyalahkan Tuhan dan menganggap Tuhan itu tidak adil terhadapnya. Apakah Tuhan itu adil pada umat-Nya? Apakah Tuhan itu begitu jahatnya sehingga membiarkan makhluk ciptaan-Nya menanggung beban di luar batas kemampuan mereka? Untuk manusia yang berpikir jernih dan menganggap bahwa masalah yang dihadapinya itu sebagai suatu ujian dari Tuhan dan tanda bahwa Tuhan itu sayang padanya, tentu pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak perlu digaungkan lagi hanya untuk memastikan apakah Tuhan itu adil atau tidak.

Perlu kita ketahui bahwa masalah-masalah yang kita hadapi ini terjadi karena kepribadian atau karakter dalam diri kita yang kian terkikis oleh keadaan zaman yang semakin maju, dan kita tidak sanggup untuk membentengi diri kita dari perubahan tersebut. Kepribadian itu berasal dari diri setiap individu manusia. manusia yang memiliki karakter yang baik serta kuat, akan mampu bertahan. Sebaliknya manusia yang tidak mempunya karakter diri akan hanyut dan terseret arus peradaban yang kian maju.

Sifat dan karakter yang dimiliki manusia bersifat dinamis atau berubah-ubah. Ada beberapa hal yang bisa bertahan dalam waktu tertentu, dan ada pula yang tidak dapat bertahan dan mudah sekali berubah. Misalnya, seorang yang selama hidupnya selalu bahagia dan tidak pernah mengalami kesulitan sekali pun, namun suatu ketika dihadapkan dengan satu masalah yang membuat dirinya bingung bahkan frustasi karena tidak mampu menemukan jalan keluar untuk masalahnya dan seketika itu pula pandangannya tentang hidup berubah. Jika pada dasarnya seseorang itu memiliki karakter yang kuat dan sikap yang positif maka ia akan mencoba untuk mencari jalan keluar atas masalanhnya, namun jika seseorang itu lemah karakternya, dia tidak akan mudah menerima masalah hidup yang dihadapinya dan akibat fatalnya adalah orang tersebut dapat melakukan kejahatan serta mengalami gangguan kejiwaan.

Hal seperti inilah yang kerap kali terjadi di sekitar kita. Orang-orang yang merasa dirinya hebat dan bisa melakukan segalanya menjadi buta hati dan bertindak sewenang-wenangnya. Seperti para pejabat-pejabat tinggi di luar sana yang saat ini kebanyakan tinggal di hotel prodeo. Jika kita telisik lebih dalam, dulu sebelum mereka menjadi pejabat tinggi, siapa mereka? Apakah ada yang mengenali mereka? Namun, karena kepercayaan diri mereka yang kuat maka mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Dan ketika mereka sudah di puncak kejayaan, tidak sedikit di antara mereka yang lupa siapa diri mereka dulu? Melakuan tindakan-tindakan yang orang Jawa sering katakan, “Seenak udelnya atau seenak e dewe,” sehingga menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang meresahkan masyarakat luas. Ini terjadi karena ketidakkokohan karakter yang dimiliki oleh petinggi-petinggi tersebut. Lain lagi ceritanya untuk seseorang yang tingkat pendidikan dan ekonominya berada ditingkat menengah ke bawah, mereka memandang bahwa jika hidup mereka begini-begini saja, maka sampai mereka mati pun tidak akan bisa merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan atas kehidupan yang lebih layak seperti yang diinginkan. Untuk orang-orang yang mempunyai pondasi karakter yang kokoh, maka mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan dan butuhkan dengan jalan yang benar, namun untuk mereka yang memiliki karakter lemah, mereka akan mencari jalan pintas yang tidak benar untuk meraih kenyamanan hidup yang selama ini mereka cari.

Masalah kepribadian dan karakter diri manusia merupakan suatu hal yang kompleks, yang masih terus dicari jalan keluarnya untuk dilakukannya perbaikan karakter individu manusia agar dalam kehidupan bersosial tidak terjadi masalah-masalah yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Ada sebuah kata mutiara yang bertuliskan “Sejahat dan sekotor apapun manusia, pasti di dalam dirinya terselip suatu keinginan mulia untuk kembali pada fitrah spiritualnya.” Artinya, setiap manusia di muka bumi ini memiliki fitrah spiritual yang menjadi dasar pembentukan karakter yang baik. Nah, untuk memperkokoh karakter itu, manusia harus mampu menemukan jalan kebenaran dan selalu ingat kepada Tuhan semesta alam serta menahan diri dari nafsu yang menyesatkan.

Di sinilah perlu diterapkannya pendidikan karakter pada setiap individu. Pendidikan karakter ini harus diterapkan secara menyeluruh. Ini berarti bahwa harus mulai dari sekolah formal, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT), sekolah agama yang ada di masyarakat, orang tua, lingkungan masyarakat, pemerintah, dan lewat media. Ada banyak hambatan yang terjadi yang perlu dihadapi bila kita ingin menanamkan pendidikan karakter. Hambatan utamanya adalah pendidikan karakter hanya berhenti pada teori, dan tidak sampai pada praktek dan kebiasaan hidup, kemudian, tidak semua warga sekolah terlibat. Guru, kepala sekolah, yayasan, dan pegawai seluruh sekolah tidak terlibat dalam pendidikan karakter. Orang tua tidak diikutkan dan orang tua malah mengajarkan nilai lain. Lingkungan masyarakat dan pimpinan masyarakat yang hidup bertentangan dengan nilai karakter yang ditekankan.

Bangsa ini tidak maju sebenarnya bukan pertama-tama karena anak-anak tidak baik, tetapi karena banyak orang tua dan orang dewasa, termasuk banyak pimpinan yang tidak berkarakter baik. Hal ini menjadi contoh tidak baik dalam pengembangan karakter orang muda. Oleh karena itu, generasi lama harus membantu generasi muda untuk membentuk karakter atau perilaku yang baik, sehingga terwujudnya masa depan mereka yang lebih cerah.

Pendidikan dan pelatihan merupakan satu di antara banyaknya jalan keluar untuk membentuk karakter dan kepribadian manusia yang kokoh. Pembentukan karakter dan kepribadian ini akan membentuk model manusia di masa depan, apakah model manusia qur’ani atau manusia hewani , atau bahkan manusia berkarakter syaithoni. Kekuatan karakter tidak lahir dengan sendirinya, ia seperti pisau yang harus selalu diasah agar tajam dan mampu memotong apa saja. Maksudnya, karakter yang sudah dibentuk sedemikian rupa melalui proses yang baik dan benar, melalui pendidikan dan pelatihan baik itu di rumah, di lembaga pendidikan, ataupun di lingkungan bermasyarakat akan menjadi kokoh dan dapat membentengi diri dari segala hal buruk yang datang untuk menjerumuskan manusia itu sendiri.

Untuk membentuk karakter yang kokoh, kita tidak hanya dibekali oleh kecerdasan intelektual atau biasa disebut dengan IQ dan kecerdasan emosional atau EQ. Tetapi ada tonggak penyangga yang bahkan mengalahkan eksistensi IQ dan EQ. Ya, tonggak penyangga itu adalah kecerdasan spiritual atau SQ yang menjadikan Tuhan sebagai sumber nilai-nilai kebenaran yang hakiki dalam mewujudkan terbentuknya karakter dan pribadi manusia yang kokoh dan tak tergoyahkan.

Manusia tanpa karakter bak bunga layu yang tak berona, manusia tanpa karakter bagai kerbau yang ditindik hidungnya, manusia tanpa karakter seperti layangan tanpa benangnya, dan manusia tanpa karakter itu tidak artinya.

SHARE

NO COMMENTS