SHARE

Batagor Nini

Tanjungpinang, Isukepri.com – Di tengah hiruk pikuk kendaraan di jalan Brigjen Katamso, tampak sosok wanita mendorong gerobak bertuliskan ‘Batagor’ sedang menghimpit tiang listrik sebagai posisi tempatnya biasa berjualan. Tanpa peduli riuhnya arus lalu lintas, Nini Fitri mulai mempersiapkan bahan dan alat-alat memasak. Tentunya, ketika posisi gerobak tersebut dinilainya sudah tepat.

Waktu yang ketika itu menunjukkan pukul 16:00WIB, gerobak biru yang bertuliskan ‘Batagor’ tadi, sudah terdengar desingan minyak panas yang dicelupkan tahu, bakwan dan beberapa bahan makanan lain, untuk persiapan jualan sesuai nama yang bertuliskan di kaca gerobak biru. Itu lah, sekilas langkah penjual batagor di tanah melayu yang sudah menekuni usaha tersebut sejak 5 tahun silam.

Usaha Batagor yang dulunya milik adik iparnya, merupakan cerita awal, sebelum dikelola oleh Nini. Dimana, adik ipar Nini yang bersuku Sunda tersebut menyerahkan usaha tersebut kepada Nini dengan alasan kekeluargaan.

Sebagai wanita berkeluarga memiliki 2 orang anak dan suami yang bekerja sehari-hari sebagai penjaga parkir di pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, mengaku, dirinya bersyukur bisa membantu suami dan menambah ekonomi keluarga. Karena, mengharapkan gaji suami sebagai karyawan serta anak yang masih sekolah dan masih bayi, membuat Nini harus bisa meringankan tanggung jawab kepala rumah tangga, meskipun isteri dari Samsul Anwar (34) tersebut harus bisa membagi waktunya sebagai isteri, sebagai ibu, dan sebagai penambah tulang punggung keluarga yang ialakukan tiap hari biasa dari pukul 09:00WIB sampai 15:00WIB. Karena bertepatan dengan Ramadhan, Nini hanya berjualan pada pukul-pukul menjelang berbuka, dan itu ia lakukan khusus untuk Ramadhan saja.

Meskipun berjalan 5 tahun, namun Nini, masih belum merasakan bantuan dari pemerintah, padahal menurutnya, kabar angin tetang bantuan pemerintah ke pelaku usaha kecil dan menengah sering ia dengar.

“Saya hanya sering mendengarnya, namun belum pernah mendapatkannya. Dan kami tidak tau kalau program tersebut memang ada atau hanya kebar angin,” imbuhnya.

Namun, perjuangan hidup masih terus dilanjutkan meskipun atau tanpa bantuan dari pemerintah, Nini dan batagornya eksis sampai sekarang. Tak semudah membalikkan telapak tangan, usaha yang ia rintis tersebut, mengalami banyak kendala. Diantaran kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Ini membuat ia kebingungan menentukan harga batagor yang ia jual.

“Bagai mana kita bisa berjualan dengan harga murah, sementara minyak sudah naik, dan otomatis harga bahan pokok juga naik, sebab itu, jika kami mempertahankan Batagor dengan biaya Rp8000 per bungkus, maka akan sangat tipis keuntungan yang kami peroleh,” paparnya.

Sebagai penjual yang profesiaonal, Nini ternyata memiliki komitmen yang bagus terhadap usahanya, karena baginya, harga dan rasa adalah yang utama, sehingga dengan naiknya BBM ini, Nini tetap menjual batagornya dengan harga lama, yakni Rp8000 perbungkus.

“Jika dipikir-pikir penghasilan jualan ini “Alhamdulillah”, karena bisa meringankan ekonomi keluarga, dalam sehari itu keutungan kotor yang kita dapat berkisar Rp250 ribu sampai Rp300ribuan,” imbuhnya.

Namanya juga kebutuhan, meski tidak pernah mendaptkan bantuan pemerintah, Nini berharap ia mendapatkan bantuan tersebut untuk meneruskan usahanya, karena baginya, hanya pemerintah yang bisa mambantu untuk keberlangsungan usahanya.

SHARE

NO COMMENTS