SHARE

Tanjungpinang, Isukepri.com – Kue Bakpao yang mungkin hanya bisa disaksikan pada layar kaca dalam film – film silat China, kini kue kukus tersebut bisa dilihat dan dibeli disetiap pinggir jalan protokol Kota Tanjungpinang. Tentunya, keberadaan bakpao ini menambah keberagaman kuliner di negeri pantun ini. Jadi, tak perlu harus ke ‘Tirai Bambu’ untuk sekedar menikmati bakpao, karena para penjaja kue tersebut mulai bertambah di setiap pinggir jalan protokol Tanjungpinang.

Seperti di sekitar pinggir jalan D.I Panjaitan Km 9 arah Kijang, apabila matahari sore mulai teduh, ketika itu juga akan terlihat aktifitas para pedagang bakpao mulai mencari posisi berjualan atau ‘lapak’, meskipun tidak ada batas secara formal, namun posisi berjualan tersebut seolah sudah ditetapkan secara toleransi agar tidak terlalu jauh, dan tidak pula terlalu dekat, sehingga tidak mengganggu rezeki dari masing – masing bakpao yang mereka jajakan. Serta uap dari kukusan kue yang membuat  siapa saja yang melihatnya akan penasaran dengan rasanya kue tersebut.

Satu diantara penjual bakpao dikawasan tersebut adalah Ramadhan, meskipun usianya kini masih 18 tahun. Namun, semangat membantu usaha keluarga tersebut selalu ia tekuni, mengingat sulitnya mencari pekerjaan untuk kemampuan yang tidak mampu menyaingi perkembangan zaman.

Sambil memetikan senar dari gitar yang dibawanya, ia bernyanyi seolah bisa menghilangkan kejenuhan dari pekerjaan untuk sesuap nasi dan tanggung jawab demi membantu usaha milik  keluarganya tersebut.

“Meskipun tidak bisa membantu dalam bentuk uang, paling tidak saya bisa membantu menjualkan bakpao milik keluarga saya,” kata Ramadhan ketika di temui media ini persis di seberang Karaoke Family Bagio.

Dulu, sebelum berjualan ditempatnya sekarang ini, sepeda motor bagian belakang yang di modif untuk bisa meletakkan bakpao, kompor beserta gas tersebut, sambungnya selalu bertengger di depan Radio Republik Indonesia (RRI) Km 5 atas.

Menurut Ramadhan, mulai banyaknya para pedagang bakpao di Tanjungpinang ini bermula dari usaha milik keluarganya tersebut yang dirintis beberapa tahun lalu dikawasan RRI tersebut. “Waktu itu, hanya kami yang pertama berjualaan bakpao di pinggir jalan protokol, selebihnya tidak ada para penjual bakpao di pinggir jalan Kota Tanjungpinang ini,” ujarnya.

Namun, sebelum bakpao tersebut dijual, proses pembuatan masih dilakukan secara manual dengan komposisi bahan dasar tepung terigu beserta perisa inti dari bakpao tersebut. Seperti yang ia sajikan dalam setiap bakpao, ada tiga rasa yang masing – masing rasa memiliki warna kue yang sama hanya saja perbedaannya terletak pada warna dipusaran kue tersebut.

Pusaran kue warna merah, inti perisanya adalah kacang merah, kemudian jika pusaran kue tersebut berwarna hijau berarti dari kacang hijau dan jika cokelat sudah pasti di dalam bakpao itu ada rasa cokelat.

Karena rezeki ini susah sekali ditebak, Ramadhan dengan gerobak bakpaonya yang dulu bertandang di RRI terpaksa harus pindah dan mencari lokasi baru. Ia mengakui, lama kelamaan usaha tersebut mengalami penurunan karena sudah banyak yang mengekori usaha serupa di lokasi yang sama. Dari pada harus bertahan dengan omset yang semakin berkurang, dengan terpaksa, Ramadhan pergi mencari lapak baru dengan keyakinan, ia ingin berjualan dengan tenang dilokasi yang tentunya bakal lebih menguntungkannya.

Hasilnya, dua bulan terakhir setelah menempati posisinya sekarang di Km 9 tersebut, dari 100 bakpao seharga Rp3000 per biji selalu dijajakannya itu, bisa laku terjual 80 biji kue. Bahkan jika kondisi dan situasi mendukung, pasokan bakpao di gerobak selalu ditambah.

Tiga rasa berbeda dalam 100 bakpao selalu ditambah apabila terjual sekitar 80 biji, jadi bakpao yang dipajang di gerobak motor nya itu, selalu terlihat ramai dengan warna khas putih dari kue tersebut.

Sebenarnya, kalau ada modal lagi, ucap Ramadhan, ia ingin memiliki gerobak dan menjualnya sendiri, namun harga gerobak saja sekitaran Rp1juta, sementara pendapatan tidak seberapa, karena, Rp3000/ biji dari kue bakpao yang ia jual, Ramadhan hanya memperoleh Rp1000 sebagai upahnya. Sementara ditanya soal modal usaha, ia mengaku semua modal dari pribadi keluarga, dan tidak pernah tersentuh apalagi mendengar adanya bantuan usaha kecil dari pemerintah.

“Saya berharap, jika pun ada bantuan dari pemerintah untuk membantu modal usaha bagi para usaha kecil, kami harap sudilah memberikan modal tersebut pada kami untuk memajukan usaha bakpao ini,” harapnya sammbul berteduh dibawah payung warna pelangi gerobaknya.

NO COMMENTS