SHARE

Tanjungpinang, Isukepri.com – Salah satu lokasi penjualan kerajinan kulit kerang di Kota Tanjungpinang terdapat di komplek makam Raja Ali Haji dan Engku Puteri, Pulau Penyengat sangat diminati wisatwan yang berkunjung ke pulau bersejarah itu.

Tuminah, warga asli Pulau Penyengat ini adalah pemilik usaha kerajinan tersebut. Dengan hanya bermodalkan kios berdinding kayu serta beberapa meja dan rak, kerajinan kulit kerang asli buatan Tuminah dipamerkan.

Sebagai daerah kepulauan identik dengan hasil laut tentunya hasil laut itu tidak hanya diolah menjadi panganan tetapi juga diolah untuk menjadi kerajinan tangan yang bisa sebagai cinderamata bagi wisatawan. Salah satu hasil laut yang bisa diolah menjadi kerajinan tangan adalah kulit kerang seperti bisnis yang ditekuni Tuminah sepuluh tahun belakangan.

Berbagai macam kerajinan dapat dibuat dari kulit kerang ini seperti hiasan meja, asbak, kapal, hingga hiasan dinding. Berbagai kerajinan itu dapat menjadi suatu cinderamata yang dapat dibawa pulang oleh wisatawan ketika mengunjungi Kota Tanjungpinang.

Bermacam jenis kerajinan kulit kerang, yang dijual dikiosnya. Dari usaha dan bakat yang ada, ia mampu menciptakan kerajinan tangan yang indah. Selain, menjual kerajian dari kulit kerang, Tuminah juga menjual kerajinan tangan yang terbuat dari karang.

“Awalnya coba-coba, tapi setelah dipamerkan ternyata banyak peminatnya. Ini semua, saya dan keluarga yang membuatnya,” ujarnya, Sabtu (18/7) kemarin.

Diakuinya, saat ini ia belum memiliki mitra di tempat lain sehingga kerajinan tangan buatannya masih sebatas dipasarkan secara lokal saja, yakni seputaran Pulau Penyengat.

“Memang perlu tenaga lebih kalau nak dipasarkan keluar, selain itu saya juga belum punya mitra usaha di tempat lain,” tuturnya.

Dikatakan olehnya, banyak para pengunjung yang apabila datang ke Pulau Penyengat tertarik dengan kerajinan miliknya. Pasalnya, kerajinan ditawarkannya cukup unik dan berbeda. Dari ketekunan dan kerja kerasnya itu, Tuminah bisa memiliki pengahsilan yang terbilang cukup untuk menghidupi keluarganya.

“Kalau banyak pengunjung yang datang, bisa lebih dari Rp300 ribu, tapi kalau sedikit, paling dapat Rp100 ribu,” tuturnya.

Dijelaskan juga olehnya memang untuk membuat kerajinan yang akan dipasarkannya itu membutuhkan waktu yang tidakl sebentar.

“Untuk membuat kapal-kapalan, waktu yang dibutuhkan memang lebih singkat cuma butuh dua hari. Sedangkan untuk kerajinan bunga merak, dibutuhkan waktu satu minggu,” ujar Tuminah.

Menurutnya, bahan baku untuk membuat kerajinan kerang itu memang tidak sulit didapatkannya. Biasanya ia mendapatkan kulit kerang dari Pulau Penyengat, dan juga dari pulau Karas, Tanjung Sebauk dan Pangkil.

SHARE

NO COMMENTS