SHARE

Batam, IsuKepri.com – Siapa yang tak kenal dengan salah satu makan kuliner yang diberi nama “nasi kucing” ini. Meski nama kuliner itu sedikit aneh, akan tetapi kuliner tersebut enak dan harganya ekonomis.

“Nasi kucing” ini juga, terdapat di salah satu warung di Komplek Greenland Blok F1 nomor 15 Batam Center. Selain itu, warung makan yang setiap hari ramai dikunjungi oleh konsumen dari berbagai kalangan di Batam Center di kelola oleh Bude, dan panggilan itu yang akrab disebut oleh semua pelanggan di warung tersebut.

Di warung yang tidak jauh dari Mega Mall itu juga, menyediakan minuman instan seperti minuman teh obeng (teh es) dan minuman lainnya.

Salah seorang karyawan PT yang juga pelanggan tetap di warung itu mengaku selalu makan disana. Bahkan, warung Bude itu juga ramai dikunjungi dari berbagai kalangan konsumen, seperti Mahasiswa Politeknik, Siswa SMP, SMA atau pun SMK dan juga karyawan serta para pekerja lainnya.

“Selain ramai dikunjungi konsumen, harganya murah dan masakannya enak, maka hampir setiap hari saya makan siang di sini,” ujar Didik, Jumat (17/7) ketika berbincang – bincang pada IsuKepri.com.

Selain itu, makanan yang dijual di warung yang dikelola Nur tersebut, hampir setiap hari terjual habis.

“Untuk saat ini, dagangan saya tiap hari laris mas, dan berbagai kalangan muda dan bapak – bapak pun sering membeli berbagai masakan kami. Mungkin dikarenakan harga yang terjangkau dan relatif murah,” ujar pemilik warung Bude Greenland, Nur.

Nur mengatakan, usaha warung “nasi kucing” atau sego kucing itu sebenarnya tidaklah butuh dana yang besar. Hanya bermodalkan gerobak serta angkringan yang dilengkapi menu makanan tradisional serba murah meriah dan sudah bisa dijalankan.

“Sedangkan, untuk mencari lokasi yang cocok itu memang gampang – gampang susah. Lokasi yang pas harus bisa menghidupkan suasana yang santai untuk ngobrol dengan ditemani sajian makanan yang enak. Lokasi yang pas biasanya disekitar kampus dimana banyak mahasiswa atau anak muda  yang suka kongkow – kongkow,” ucapnya.

Selain itu, usaha warung nasi kucing ini juga bisa berkembang di sudut – sudut komplek, pertengahan kota dan pengunjungnya bisa berasal dari beragam profesi dan usia.

Usaha itu juga, sejak awal Nur sudah merencanakannya dan dengan menggunakan modal dari pinjaman. “Ya, sekarang kalau target tidak tercapai karena pegawainya udah males kerja. Sedangkan, negara masih ngarep 70 persen – 80 persen dari sumbangan pajak, artinya rakyat kecil siap – siap harus berusaha.

“Harusnya pajak untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) di gratiskan,” paparnya.

NO COMMENTS