SHARE

Tanjungpinang, Isukepri.com – Suatu karya dari bakat seni yang kreatif tanpa menjadi seorang plagiat ternyata menimbulkan rasa kebanggaan tersendiri bagi penciptanya. Bagaimana tidak, ide cemerlang yang timbul dengan tempahan seni dan pengalaman, membuat hasil karya itu lebih bernilai di mata yang melihat maupun dari pandangan pembuatnya.

Begitulah yang dilakukan pemilik nama lengkap Martinus Wanto atau yang akrab disapa Wating. Bakat yang sudah dibawanya sejak lahir itu memberikan semangatnya dalam mengembangkan kreatifitas melalui usaha advertising yang bernama Bintan Stiker.

Meski terlihat sederhana, namun nama Bintan Stiker yang berada di Jalan Pancur samping hutan lindung tersebut memiliki kisah perjuangan yang perlu dijadikan pelajaran hidup bagi siapa saja yang ingin memulai dunia usaha mandiri.

Sulitnya memperoleh modal awal sebagai pondasi usaha kecil, dirasakan Wating ketika ingin mewujudkan mimpinya membuka usaha tersebut. Sampai pada tahun 2011 silam, seorang temannya yang ketika itu sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil, meremehkan niat baiknya.

“Tapi karena tekad hati ingin menjadi pengusaha besar, hal itu menjadi pemicu untuk membuktikan bahwa saya pun bisa berhasil tanpa harus jadi PNS,” kata pria kelahiran Tanjungpinang, 30 Juni 1983 ini, Kamis (23/7).

Tidak cukup disitu, hambatan dalam pemerolehan bantuan pemerintah pun juga menghalangi langkah anak ke 3 dari 4 bersaudara pasangan dari Januaris Sadapun dan Omikadare. Di tahun yang sama, sambung Wating, ajuan proposal sebagai bentuk permohonan untuk memperoleh bantuan modal usaha di Dinas Koperasi Provinsi Kepri tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Dalam permohonan tersebut, saya mengajukan pinjaman modal senilai Rp35 juta untuk membeli semua peralatan yang dibutuhkan dalam usaha percetakan, tetapi yang dikeluarkan hanya Rp10 juta, itupun dibagi dua, karena meminjam BPKB motor teman,” ucapnya.

Bahkan, sambung penganut agama Islam yang gemar memancing ikan ini juga mengaku, dalam proses pencairan modal tersebut, ia dioper – oper. Sampai mentok ke permasalahan jaminan. “Saya kira, pinjamannya tanpa jaminan BPKB, ketika motor pribadi saya jadikan jaminan, pihak
terkait menolak, karena motor penjamin minimal tahun 2008. Sementara motor Shogun saya keluaran tahun 2006,” imbuhnya.

Meski sempat hampir putus asa, namun suami dari Elisa Fitriani ini terus bersabar dan tetap tegar sampai menemukan ide untuk menggunakan BPKB motor milik seorang temannya. Pada akhirnya, “cairlah” modal usaha yang diharapkan Wating dari pemerintah tersebut, meskipun harus membagi dua hasilnya.

Berkat upaya itu, berdirilah Bintan Stiker meski bermodal pas – pasan, namun bakat dan pengalamannya di dunia advertising memantabkan langkahnya, dan berharap nama Bintan Stiker yang melekat itu bisa membuat usahanya berkembang dan maju seperti filosofi Pulau Bintan kini.

Bergelut di dunia advertising ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Wating, sebelumnya pria yang hobi makan kwetiau ini pernah bekerja dibeberapa perusahaan advertising terbesar di Batam dan Tanjungpinang sekitar tahun 2009. Sampai mendapat pelatihan bersertifikat khusus digital printing yang digelar oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Tanjungpinang, pada 2011 silam.

“Tapikan tidak mungkin selamanya kita menjadi anak buah, kita pun ingin menjadi pemilik dan memperkerjakan orang menjadi karyawan kita. Itulah sebabnya saya membuka Bintan Stiker yang niatnya juga untuk memperkerjakan pemuda di Hutan Lindung ini, apalagi mengingat sulitnya mencari pekerjaan di zaman sekarang minimal bisa membantu pemuda tempatan yang ingin mandiri bekerja,” papar alumni SMA 2 Kota Tanjungpinang yang berdomisili di Hutan Lindung RT 2/ RW1.

Dari apa yang telah dilewati Wating, pada intinya, ia sangat bersyukur dengan apa yang diperolehnya saat ini dengan pesan, teruslah berjuang dan selalu bersyukur dengan yang diterima dan dialami. Karena bergerak di bidang jasa, Bintan Stiker memiliki pelayanan yang berbeda dengan percetakan lainnya.

Seperti disampaikan Wating, yang berhubungan dengan advertising atau percetakan sejenis plang, kartu nama, id card, stiker, baliho, spanduk, cap stempel, sablon dan lain sebagainya bisa dibuat olehnya dengan biaya yang bisa nego dan lebih murah dengan tambahan antar dan pemasangannya.

Dari apa yang dilewati Wating, diakuinya memang tidak mudah untuk mencapai keberhasilan, tapi setidaknya tekat tanpa putus asa dan selalu bersyukur adalah kunci mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

SHARE

NO COMMENTS