SHARE

Batam, Isukepri.com – Seorang perajin tempe di kawasan Bengkong Baru, Batam – Kepulauan Riau Yunus (50) tergolong berhasil. Pasalnya, Ia bisa memproduksi ribuan bungkus tempe per hari. Menurut pria dua orang anak ini, usaha mandiri yang ditekuninya itu cukup menjanjikan.

Dari usaha yang sudah ia tekuni semenjak tahun 2003 lalu itu, kini Yunus biasa merendam kedelai sebanyak 4 kwintal setiap seharinya untuk diolah menjadi tempe. Tentunya Yunus membangun usaha ini dari nol pada mulanya.

Kedelai dibersihkan dan dimasak setelah direndam selama semalam, kemudian diberi ragi, setelah itu kedelai dibungkus dengan plastic ataupun daun untuk selanjutnya diendapkan selama dua hari agar dapat menjadi tempe, barulah kemudian pada hari ke empat tempe siap di pasarkan.

Pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah ini memang sudah turun temurun melakoni bisnis ini. Mulai dari orang tuanya, bahkan sejumlah kerabat dekatnya juga memabangun bisnis yang sama dengan cara tradisional di kampung halamannya.

“Jika tidak menguntungkan, tentu tidak selama itu saya membuat tempe,” kata dia.

Selama ini dalam pengerjaan tempe tersebut, mulai dari proses awal perendaman, fermentasi hingga pemasaran tempe ke pasaran Yunus dibantu oleh 10 orang karyawannya. Proses ini dikerjakan karyawannya di tempat usaha miliknya sendiri. Saat ini, pemasaran tempe buatan Yunus masih berkisar di Nagoya saja.

Kostinah, salah seorang karyawan Yunus yang mengaku telah bekerja bersama Yunus semenjak usaha tersebut di bangun menjelaskan, usaha ini sebenarnya dibangun sangat tradisional sekali, dan SDM yang bekerja juga di datangkan langsung dari Kendal.

“Pengerjaan usaha tempe ini memang sangat tradisional sekali, proses memasaknya juga kami masih menggunakan kayu bakar untu merebus tempe tersebut,” jelas wanita 57 tahun tersebut.

Usaha tempe milik Yunus ini memiliki beberapa jenis, mulai dari tempe mendoan, bungkus plastik hingga tempe yang dibungkus dengan daun pisang. Semua tempe ini memiliki harga yang bervariasi, mulai dari Rp.1000 rupiah hingga Rp.2000.

“Untuk harga kami juga bervariasi, tergantung dari jenis tempenya, dari ribuan tempe yang kami produksi per harinya, masing-masing potongan tempe kami beri harga sesuai dengan ukuran tempenya,” jelas Kostinah.

Kostinah memang sudah bekerja selama duabelas tahun, wanita ini juga sudah dipercaya Yunus dalam manajemen usaha yang ia bangun selama ini. Sejak usaha tempe ini dibangun Kostinah mengaku memang sudah banyak suka duka yang ia lewati, hingga akhirnya kini bisa memproduksi kedelai sebanyak 4 kwintal untuk di olah menjadi tempe.

Jadi pengusaha tempe itu harus berani berkorban. Dulunya, harga kedelai masih murah, Rp2ribu per kilogram. Sekarang harga kedelai sudah semakin melambung tinggi, bahkan mencapai Rp 16 ribu per kilogramnnya.

Dalam membangun sebuan usaha memang harus ulet dan sungguh-sungguh. Usaha tempe milik Yunus ini memang terus berkembang hingga saat ini, namun demikian Yunus masih berupaya agar pemasaran tempe miliknya dapat dijangkau lebih banyak lagi kedepannya.

Sekarang, pengusaha tempe sudah banyak di Batam. Sedangkan di daerah tempat usahanya saja saat ini ada 2 orang pengusaha tempe. Namun baginya kompetitor ini bukanlah halangan untuk tetap memajukan usahanya.

Baginya menjaga kwalitas tempe yang ia pasarkan kepada konsumen adalah penting, dengan demikian Yunus bisa tetap menjaga pasar tempenya dengan baik, bahkan mungkin bisa lebih meningkatkan lagi pemasarannya.

Istimewa dari usaha Tempe milik Yunus ini adalah karyawan yang langsung ia datangkan dari kampung halamannya di Kendal. Jika memang karyawannya sudah tidak betah, Yunus biasanya akan mencari penggantinya dari kampung halamnnya, dan sekaligus mengembalikan karyawannya tersebut.

Setelah 12 tahun membangun usaha di Batam Yunus masih memiliki harapan yang besar untuk bisa tetap mengembangkan lagi pemasaran tempe yang sudah ia produksi untuk di jual di pasaran.

SHARE

NO COMMENTS