SHARE

Karimun, Isukepri.com – Sebuah kegemaran atau hobi seseorang bila ditekuni dan dikembangkan akan mampu menjadikan pemasukan keuangan bagi yang menggelutinya dengan benar. Berawal dari hobinya memasak disela-sela kesibukannya sebagai karyawan swasta, Merry (29) memberanikan diri untuk menerima orderan makanan baik berupa pesanan snack ataupun katering makanan berat.

“Belajar otodidak dari berbagai sumber, kemudian saya mencoba mengaplikasikannya di dapur sederhana. Dengan hasil yang memuaskan saya berani menerima orderan yang masuk, sampai akhirnya bisnis catering saya cukup dikenal,” begitu kata Merry.

Selama menjadi karwayan, pengusaha muda yang akrab dipanggil Merry ini tak segan-segan menjajaki berbagai menu makanan baru untuk bisa tetap eksis di bisnis makanan. “Saya mencoba keluar dari dapur dan menjajakan menu baru yang lumayan favorit di kalangan pekerja lainnya yaitu nasi uduk,” ujar Merry.

Kepada tim liputan Isukepri.com, Merry bercerita awal mula merintis bisnis nasi uduk setelah ada seorang teman yang sangat suka makan nasi uduk atau nasi yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah. “Setiap minggu saya harus meluangkan waktu untuk membuatkan nasi uduk, parahnya bukan cuma satu orang tapi lambat laun teman-teman lainnya pun ikut menikmati nasi uduk buatan saya. Sampai kemudian saya disarankan untuk mncoba menjajakan nasi uduk di luar,” ceritanya.

Dengan memanfaatkan warung kecil berukuran 3X5 meter, Merry membuka lapak di sebuah lokasi yang cukup stategis. Dan ternyata respon yang Ia dapatkan cukup positif. Yang dulunya sasaran pertama Merry adalah kalangan pelajar dan mahasiswa serta karyawan, kini masyarakat umum di sekitar lapak dagangnya pun ikut menikmati sajian kuliner nasi uduk tersebut.

“Alhamdulillah respon masyarakat positif dan antusias mereka pun juga baik. Awalnya masih sepi karena masih proses pengenalan tapi makin kesini Alhamdulillah sudah memiliki pelanggan tetap dan tak jarang juga pelanggan baru mulai berdatangan. Bahkan ada yang minta untuk delivery di sekitar tempat saya buka lapak,” tandasnya.

Dengan bantuan seorang sahabat, setiap harinya Merry membuka lapak jualannya mulai dari pukul 8 malam sampai 8 malam. “Kadang sebelum pukul 8 malam, nasi uduknya sudah habis. Saya hanya mempersiapkan sekitar 35 – 40 bungkus nasi uduk,” tutur pengusaha muda ini.

Selama menjalankan bisnis sampingan di sela-sela kesibukannya di tempat kerja, Merry mengaku tak menemui banyak kendala yang berarti. Hanya saja Ia sering kewalahan jika harus menghadapi banyak pesanan, mungkin karena Merry masih bekerja sendiri dan dibantu oleh saudara sepupunya. Belum lagi jika pesanan bahan baku ada yang rusak atau bahan baku yang stoknya tidak ada di pasaran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Merry harus turun langsung memeriksa segala kebutuhan bisnisnya.

“Saya memilih pasar tradisional sebagai sumber bahan baku saya, dan dengan sangat amat selektif saya memilih bahan-bahan yang berkualitas baik,” imbuhnya.

Kendati saat ini Ia telah mengantongi omzet sekitar Rp 4 juta – Rp 5 juta setiap bulannya, namun kedepannya Merry berharap bisa mempunyai kedai sendiri dan bisa mempunyai cabang di beberapa titik yang berbeda. “Kerjakanlah apa yang Anda sukai, lakukanlah segala hal yang anda sukai dengan senyaman mungkin. Insyallah kita bisa menyenangkan semua orang,” pesannya.

SHARE

NO COMMENTS