SHARE

Tanjungpinang, Isukepri.com – Usus ayam merupakan salah satu bagian ayam yang kerap kali di buang oleh masyarakat. Hal ini lantas membuat Firman dan Evi ini menagkap peluang tersebut deengan merintis usaha kripik usus sejak tahun 2006. Keripik usus yang diberi label “Ayam Jago” laku keras sejak usaha berdiri hal ini terbukti saat swalayan meminta pasokan lebih yang dikarenakan meningkatnya peminat dari kripik usus “Ayam Jago” ini.

Diceritakan oleh Evi, bahwa pada awalnya usaha ini tanpa ada niatan khusus untuk mendirikannya. Ide usaha ini berawal dari Firman yang merupakan suaminya sedang makan bakso di salah satu tempat dan ditawari kripik usus “Rasanya enak dan unik dan banyak pengunjung yang suka dengan kripik usus itu. Langsung deh terbesit untuk membuka usaha ini,” ujar Evi

Sejak saat itu, Evi dan Firman lantas memulai membuka usahanya dan memasarkannya di tempat bakso tersebut serta tempat makan lainnya. Melihat respon positif dari masyarakat akan kripik ususnya, pasangan suami istri ini langsung mengajukan surat permohonan produksi ke pihak Dinas Kesehatan Tanjungpinang. Bukan hanya sebatas itu, Firman juga mengurus label halal untuk produknya untuk meyakinkan pelanggan akan produknya.

Dengan perkembangan usahanya ini dimata masyarakat, kini kripik usus “Ayam Jago” juga dilirik oleh pasar Batam.

“Saat ini, distributor dari Batam juga meminta pasokan lebih. Melihat peluang itu, kami langsung menambah produksi menjadi 20 Kg kripik usus da;am dua minggu sekali,” tambah Evi

Usaha yang kini telah merambah ke jenis lainnya seperti stick keju, kripik kulit dan empat macam lainnya yang hasil penjualannya juga lumayan besar ini telah memberikan penghasilan kepada keluarga ini kurang lebih Rp2 juta perbulan dan ini diluar dari pemesanan dalam jumlah besar dan untuk oleh-oleh.

“Biasanya kalo untuk pesanan hari besar maupun oleh-oleh, kemasannya dalam toples dan itu dibedain produksinya dengan yang sehari-hari diproduksi,” tambahnya lagi

Menjalani usaha keripik usus yang telah dilakoninya sejak lama ini diakui Evi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Beberapa kali terjatuh, namun mereka tetap mengupayakan agar usaha ini mampu kembali berjalan.

“Namanya cobaan bisa datang dari mana saja. Yang penting kita gigih,” pesan Evi. Dan satu hal yang ditekankan Evi, sebagai pengusaha kuliner ada baiknya memperhatikan kondisi pasaran dan keuangan masyarakat. Hal ini dilakukan agar barang dapat tetap laku meskipun ditengah sulitnya keuangan.

SHARE

NO COMMENTS