BI: Inflasi 2016 Berada Pada Batas Bawah

BI: Inflasi 2016 Berada Pada Batas Bawah

360
0
SHARE

Jakarta, IsuKepri.com – Bank Indonesia (BI) melaporkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Desember 2016 sebesar 0,42 persen (mtm), lebih rendah dari bulan lalu yang mencapai 0,47% (mtm). Inflasi tersebut terutama disumbang komponen administered prices (harga yang diatur pemerintah) dan volatile food (harga pangan bergejolak), Maka dari itu, inflasi IHK secara keseluruhan tahun 2016 mencapai 3,02% (yoy) dan berada pada batas bawah kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu sebesar 4±1% (yoy).

Melalui lamannya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menjelaskan bahwa pada bulan Desember 2016, inflasi administered prices mencapai 0,97% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,13% (mtm). Sedangkan untuk keseluruhan tahun, komponen administered prices mencatat inflasi rendah sebesar 0,21% (yoy) yang ditopang oleh menurunnya harga energi dunia di tengah reformasi subsidi berupa penyesuaian harga BBM dan tarif listrik.

\”Perkembangan tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara dan tarif kereta api sejalan dengan musim liburan dan penyesuaian pada tarif listrik serta bensin non subsidi. Selain itu, tekanan inflasi administered prices juga didorong oleh kenaikan tarif rokok kretek filter,\” ujar Tirta dalam keterangan resmi Bank Indonesia, Selasa (3/1)

Sedangkan inflasi volatile food mencapai 5,92% (yoy), cukup rendah di tengah terjadinya gejala La Nina. Cukup rendahnya inflasi volatile food didukung oleh terjaganya pasokan bahan pangan, Operasi Pasar yang dilakukan BULOG dan semakin kuatnya koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia, antara lain melalui TPI dan TPID, dalam mendorong peningkatan produksi dan memperbaiki distribusi.

Sementara itu, inflasi inti tetap terkendali pada level yang rendah, baik secara bulanan maupun tahunan, yaitu masing masing sebesar 0,23% (mtm) dan 3,07% (yoy). Rendahnya inflasi inti tersebut didorong oleh masih terbatasnya permintaan domestik, lemahnya tekanan eksternal, dan membaiknya ekspektasi inflasi. Hal tersebut tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi.

\”Ke depan, inflasi diperkirakan berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4±1%. Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi perlu terus diperkuat, terutama terkait dengan kemungkinan penyesuaian harga beberapa komoditas di kelompok administered prices,\” jelas Tirta. (sumber: Bank Indonesia)