SHARE

KETUA Percepatan KEK Provinsi Kepri Syamsul Bahrum yang juga Asisten II Ekonomi Pembangunan Gubernur Kepri mengatakan, banyak jabatan ketika Kepri nanti sudah memiliki KEK.

Namun, posisi di kawasan ekonomi spesial itu tidak banyak diisi bagian administrasi maupun ekonomi serta hukum. Jurusan yang banyak diperlukan seperti konstruksi, kelistrikan, otomotif.

Jurusan ini mendominasi sekitar 60 persen. Sedangkan posisi lainnya sekitar 20 persen. Di Kepri, tidak banyak jurusan seperti yang dibutuhkan di kawasan KEK itu. Di Tanjungpinang misalnya, banyak jurusan hukum, ekonomi, keguruan dan sosial politik.

Kata dia, meski jurusan-jurusan yang diperlukan itu ada, tetap juga memiliki keahlian. Setidaknya mampu berbicara dalam Bahasa Inggris. Karena itu, kalangan muda di Kepri harus bertanya pada diri sendiri apakah sudah siap bekerja di industri atau tidak.

Di Kepri, kata Syamsul Bahrum, baru satu titik KEK yang sudah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) yakni di Galang Batang Bintan. Namun, tidak lama lagi akan ditetapkan juga KEK di Pulau Asam Karimun.

Hal ini disampaikan Syamsul Bahrum saat menjadi salah satu narasumber di seminar ekonomi dengan tema ‘Posisi Strategis Kepri dalam Upaya Pertahanan Keamanan dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional’ yang digelar di Gedung Muhamadiyah Batu 8 Atas, Minggu (25/3).

Hadir juga narasumber lain yakni, Kolonel Arief Meidyanto Aspotmar Danlantamal IV Tanjungpinang, Suprapto pengamat perbatasan Kepri, Rendra Setyadiharja MIP dosen Stisipol Tanjungpinang dan Martunas Situmeang, Redpel Tanjungpinang Pos.

Arief Meidyanto mengatakan, Kepri memiliki potensi bahari yang sangat banyak dan menyebar di seluruh Kepri. Potensi ini yang harus dikembangkan. Laut Kepri, akan terus didatangi kapal-kapal asing. Itu karena laut Kepri aman untuk pelayaran kapal.

Sedangkan Rendra mengatakan, persoalan yang akan dialami pemerintah daerah dalam pembangunan bukanlah perang. Namun, ada persoalan nonmiliter yang mengganggu pembangunan itu sendiri.

Salah satu contoh yang diberikannya adalah perang secara tidak langsung. Perang dengan melemahkan masyarakat melalui narkoba. Sementara itu, Martunas yang diberi materi dengan tema ‘Memotret Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2018’ mengatakan, berdasarkan data yang diperolehnya dari pemberitaan Tanjungpinang Pos selama ini, banyak yang optimis ekonomi Kepri membaik.

Seperti target Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Kadin misalnya, tahun 2018 ini ekonomi Batam akan tumbuh sekitar 4-5,5 persen. Sedangkan Bank Indonesia memperkirakan, ekonomi Batam akan tumbuh paling tinggi 3,5 persen.

Target atau prediksi pertumbuhan ekonomi ini jauh lebih bagus dibandingkan tahun 2017 lalu yang sempat anjlok hingga 1,5 persen dan terakhir sekitar 2,57 persen. Namun, untuk mengembalikan ekonomi Kepri seperti masa kejayaannya tahun 2014 lalu sebesar 7,6 persen tidaklah mudah.

Saat ini, masih banyak perusahaan galangan kapal dan perusahan offshore yang belum dapat orderan. Itu karena ekonomi di Eropa belum membaik. Namun, Kepri masih banyak harapan seperti perjuangan lego jangkar pada 0-15 mil laut yang kemungkinan Juni nanti sudah dikelola Pemprov Kepri.

Kemudian, Batam akan ditetapkan lima KEK. Pelabuhan pelelangan ikan terbesar di Asia Tenggara akan dioperasikan di Selat Lampa Natuna, pembangunan smelter di Bintan, Karimun dan Lingga.

Masih banyak investor yang tertarik ingin investasi di Kepri terutama di Batam. Belum lagi Presiden sudah menyetujui 7 proyek strategis di Kepri. Seminar ini diadakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisaiat Fekon UMRAH Tanjungpinang. Ratusan mahasiswa-mahasiswi hadir sebagai peserta.

Sumber : Tanjungpinang Pos

SHARE