SHARE

Tanjungpinang, Isukepri.com – Dari keinginannya untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga, Ariyani mulai menekuni usaha berjualan kue deram-deram sejak tahun 1998 silam. Kue deram-deram yang menjadi kue khas Tanjungpinang ternyata merupakan camilan tradisional khas Kerajaan Melayu.

“Kue deram-deram adalah kue oleh-oleh khas Pulau Penyengat yang dulu dijadikan camilan kerajaan, orang-orang kerajaan makan kue deram-deram setiap sore disantap bersama secangkir kopi,” jelas Ariyani.

Di awal karirnya merintis usaha kue deram-deram, Ariyani menitipkan kue dari resep neneknya tersebut di kantin rumah sakit tempat suaminya bekerja serta di warung-warung kecil yang ada di pulau Penyengat. Ternyata niat tulusnya membantu ekonomi keluarga bisa mendatangkan keuntungan yang tak kalah sensasional.

Setelah berjalan satu sampai dua tahun, home industri kue yang Ia beri nama “Terus Jaya” ini mendapatkan bantuan dari Dinas Kesehatan dan Disperindag Kota Tanjungpinang. “Saya mendapatkan bantuan ilmu dari Dinas kesehatan dan Disperindag Kota Tanjungpinang, bagaimana caranya memproduksi yang bagus, membuat label produk yang bagus dan memilih kemasan kue yang bagus,” papar ibu dua anak tersebut.

Meski awalnya tak mudah bagi Ariyani untuk mengangkat kue tradisional khas kerajaan Melayu ini ke pasar-pasar tradisional, namun Ia tak mudah menyerah untuk bisa mempromosikan kue deram-deram di minimarket dan pusat oleh-oleh yang ada di sekitar Tanjungpinang.

“Saya dulu hampir 5 kali datang ditolak terus masuk ke minimarket karena mereka belum mengenal kue kita. Saya bilang coba dulu 10 bungkus, kalau misalnya tidak jalan besok saya ambil lagi. Saya coba berkali-kali seperti itu, dan ternyata laku di minimarket. Sekarang mereka yang nelepon kita minta dikirimkan kue karena stok di toko telah kosong,” ujarnya dengan bangga.

Dibantu oleh dua orang tenaga kerja yang Ia miliki, sekarang ini Ariyani bisa menggenjot kapasitas produksi sekitar 200 kue deram-deram setiap harinya. “Waktu dulu dikerjakan dengan Bapak baru bisa produksi 50 per hari. Sekarang ada dua karyawan bisa produksi 200 per hari. Saya hanya bantu membuat adonan, Bapak bantu antar pesanan dan karyawan menggoreng dan packing produk,” kata pengusaha wanita dari Pulau Penyengat ini.

Dari bisnis kue tradisional yang Ia jalankan, Ariyani mengungkapkan tak hanya bisa menambah penghasilan keluarga namun juga mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga mendapat gelar sarjana. “Lebih kurang ada 20 mitra yang membantu pemasaran. Alhamdulillah dari usaha kue deram-deram ini bisa mengantarkan saya dan suami ke Mekah dan di tahun 2021 mendatang giliran anak-anak saya yang ke Mekkah,” cerita Ariyani dengan senyum bahagia.

SHARE

NO COMMENTS